Pengertian Appendiks adalah organ tambahan kecil yang menyerupai jari, melekat pada sekum tepat dibawah katup ileocecal ( Brunner dan Sudarth, 2002 hal 1097 ). Appendicitis adalah peradangan dari appendiks vermiformis, dan merupakan penyebab abdomen akut yang paling sering. (Arif Mansjoer ddk 2000 hal 307 ). Apendisitis akut adalah penyebab paling umum inflamasi akut pada kuadran bawah kanan rongga abdomen, penyebab paling umum untuk bedah abdomen darurat (Smeltzer, 2001). Etiologi Terjadinya apendisitis akut umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri. Namun terdapat banyak sekali faktor pencetus terjadinya penyakit ini. Diantaranya obstruksi yang terjadi pada lumen apendiks. Obstruksi pada lumen apendiks ini biasanya disebabkan karena adanya timbunan tinja yang keras ( fekalit), hipeplasia jaringan limfoid, penyakit cacing, parasit, benda asing dalam tubuh, cancer primer dan striktur. Namun yang paling sering menyebabkan obstruksi lumen apendiks adalah fekalit dan hiperplasia jaringan limfoid. (Irga, 2007) Klasifikasi Klasifikasi apendisitis terbagi atas 2 yakni : 1. Apendisitis akut, dibagi atas: Apendisitis akut fokalis atau segmentalis, yaitu setelah sembuh akan timbul striktur lokal. Appendisitis purulenta difusi, yaitu sudah bertumpuk nanah. 1. Apendisitis kronis, dibagi atas: Apendisitis kronis fokalis atau parsial, setelah sembuh akan timbul striktur lokal. Apendisitis kronis obliteritiva yaitu appendiks miring, biasanya ditemukan pada usia tua. Manifestasi Klinik • Nyeri kuadran kanan bawah dan biasanya demam ringan • Mual, muntah • Anoreksia, malaise • Nyeri tekan lokal pada titik Mc. Burney • Spasme otot • Konstipasi, diare (Brunner & Suddart, 1997) KOMPLIKASI Komplikasi utama adalah perforasi appediks yang dapat berkembang menjadi peritonitis atau abses apendiks Tromboflebitis supuratif Abses subfrenikus Obstruksi intestinal PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK Sel darah putih : lekositosis diatas 12000/mm3, netrofil meningkat sampai 75% Urinalisis : normal, tetapi eritrosit/leukosit mungkin ada Foto abdomen: Adanya pergeseran material pada appendiks (fekalis) ileus terlokalisir Tanda rovsing (+) : dengan melakukan palpasi kuadran bawah kiri yang secara paradoksial menyebabkan nyeri yang terasa dikuadran kanan bawah Pada pemeriksaan rektal toucher akan teraba benjolan dan penderita merasa nyeri pada daerah prolitotomi. Pemeriksaan laboratorium Leukosit meningkat sebagai respon fisiologis untuk melindungi tubuh terhadap mikroorganisme yang menyerang. Pada apendisitis akut dan perforasi akan terjadi lekositosis yang lebih tinggi lagi. Hb (hemoglobin) nampak normal. Laju endap darah (LED) meningkat pada keadaan apendisitis infiltrat. Urine rutin penting untuk melihat apa ada infeksi pada ginjal. Pemeriksaan radiologi Pada foto tidak dapat menolong untuk menegakkan diagnosa apendisitis akut, kecuali bila terjadi peritonitis, tapi kadang kala dapat ditemukan gambaran sebagai berikut: Adanya sedikit fluid level disebabkan karena adanya udara dan cairan. Kadang ada fecolit (sumbatan). Pada keadaan perforasi ditemukan adanya udara bebas dalam diafragma (Doenges, 1993; Brunner & Suddart, 1997) PENATALAKSANAAN Pembedahan diindikasikan bila diagnosa apendisitis telah ditegakkan Antibiotik dan cairan IV diberikan sampai pembedahan dilakukan Analgetik diberikan setelah diagnosa ditegakkan Apendektomi dilakukan sesegera mungkin untuk menurunkan resiko perforasi. Apendektomi dapat dilakukan dibawah anastesi umum atau spinal dengan insisi abdomen bawah atau dengan laparoskopi, yang merupakan metode terbaru yang sangat efektif. Konsep Asuhan Keperawatan Sebelum operasi dilakukan klien perlu dipersiapkan secara fisik maupun psikis, disamping itu juga klien perlu diberikan pengetahuan tentang peristiwa yang akan dialami setelah dioperasi dan diberikan latihan- latihan fisik (pernafasan dalam, gerakan kaki dan duduk) untuk digunakan dalam periode post operatif. Hal ini penting oleh karena banyak klien merasa cemas atau khawatir bila akan dioperasi dan juga terhadap penerimaan anastesi. (Brunner & Suddart, 1997) ASUHAN KEPERAWATAN Pengkajian A. Anamnesa 1. Data demografi. Nama, Umur : sering terjadi pada usia tertentu dengan range 20-30 tahun, Jenis kelamin, Status perkawinan, Agama, Suku/bangsa, Pendidikan, Pekerjaan, Pendapatan, Alamat, Nomor register. 1. Keluhan utama. Klien akan mendapatkan nyeri di sekitar epigastrium menjalar ke perut kanan bawah. Timbul keluhan Nyeri perut kanan bawah mungkin beberapa jam kemudian setelah nyeri di pusat atau di epigastrium dirasakan dalam beberapa waktu lalu. Nyeri dirasakan terus-menerus. Keluhan yang menyertai antara lain rasa mual dan muntah, panas. 1. Riwayat penyakit sekarang Keluhan yang dirasakan oleh pasien mulai pertama / saat dirumah sampai MRS / opname. 1. Riwayat penyakit dahulu. Biasanya berhubungan dengan masalah kesehatan klien sekarang. B. Pemeriksaan Fisik. B1 (Breathing) : Ada perubahan denyut nadi dan pernapasan. Respirasi : Takipnoe, pernapasan dangkal. B2 (Blood) : Sirkulasi : Klien mungkin takikardia. B3 (Brain) : Ada perasaan takut. Penampilan yang tidak tenang. Data psikologis Klien nampak gelisah. B4 (Bladder) : - B5 (Bowel) : Distensi abdomen, nyeri tekan/nyeri lepas, kekakuan, penurunan atau tidak ada bising usus. Nyeri/kenyamanan nyeri abdomen sekitar epigastrium dan umbilicus, yang meningkat berat dan terlokalisasi pada titik Mc. Burney. Berat badan sebagai indikator untuk menentukan pemberian obat. Aktivitas/istirahat : Malaise. Eliminasi Konstipasi pada awitan awal dan kadang-kadang terjadi diare B6 (Bone) : Nyeri pada kuadran kanan bawah karena posisi ekstensi kaki kanan/posisi duduk tegak. C. Diagnosa keperawatan 1. Nyeri berhubungan dengan distensi jaringan intestinal oleh inflamasi. 2. Resiko terjadinya infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan tubuh. 3. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan intake menurun. 4. Intoleransi Aktifitas berhubungan dengan keadaan nyeri yang mengakibatkan terjadinya penurunan pergerakan akibat nyeri akut. 5. Resiko berkurangnya volume cairan berhubungan dengan adanya mual dan muntah. 6. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan yang dirasakan 7. Kurang pengetahuan tentang kondisi prognosis dan kebutuhan pengobatan b.d kurang informasi. D. Intervensi dan Rasional 1. Nyeri berhubungan dengan distensi jaringan intestinal oleh inflamasi. Tujuan: setelah dilakukan askep selama 1 x 24 jam dirassakan pasien melaporkan rasa nyeri berkurang atau hilang dengan Kriteria hasil : Pasien tampak rileks mampu tidur/ istirahat dengan tepat. Intervensi dan rasional 1. Jelaskan pada pasien tentang penyebab nyeri Rasional : informasi yang tepat dapat menurunkan tingkat kecemasan pasien dan menambah pengetahuan pasien tentang nyeri. 1. Kaji tingkat nyeri, lokasi dan karasteristik nyeri. Rasional : Untuk mengetahui sejauh mana tingkat nyeri dan merupakan indiaktor secara dini untuk dapat memberikan tindakan selanjutnya. 1. Ajarkan tehnik untuk pernafasan diafragmatik lambat / napas dalam Rasional : napas dalam dapat menghirup O 2 secara adequate sehingga otot-otot menjadi relaksasi sehingga dapat mengurangi rasa nyeri. 1. Berikan aktivitas hiburan (ngobrol dengan anggota keluarga) Rasional : meningkatkan relaksasi dan dapat meningkatkan kemampuan kooping. 1. Berikan kompres dingin pada abdomen Rasional : Menghilangkan dan mengurangi nyeri melalui penghilangan rasa ujung saraf. 1. Observasi tanda-tanda vital Rasional : deteksi dini terhadap perkembangan kesehatan pasien. 1. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian analgetik Rasional : sebagai profilaksis untuk dapat menghilangkan rasa nyeri. 1. Resiko terjadinya infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan tubuh. Tujuan : setelah dilakukan askep selama 2 x 24 jam diharapkan tidak terjadi infeksi dengan criteria hasil : bebas tanda infeksi atau inflamasi, ttv dalam rentang normal Intervensi dan Rasional 1. Jelaskan pada pasien tentang proses terjadinya infeksi dan tanda-tanda terjadinya infeksi. Rasional : dengan pemahaman klien, maka klien dapat bekerja sama dalam pelaksanaan tindakan. 1. Bersihkan lapangan operasi dari beberapa organisme yang mungkin ada melalui prinsip-prinsip pencukuran. Rasional : Pengukuran dengan arah yang berlawanan tumbuhnya rambut akan mencapai ke dasar rambut, sehingga benar-benar bersih dapat terhindar dari pertumbuhan mikro organisme. 1. Beri obat pencahar sehari sebelum operasi Rasional : Obat pencahar dapat merangsang peristaltic usus sehingga BAB dapat lancar. 1. Observasi tanda-tanda vital terhadap peningkatan suhu tubuh, nadi, adanya pernapasan cepat dan dangkal. Rasional : deteksi dini terhadap perkembangan kondisi pasien dan adanya tanda-tanda infeksi. 1. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian antibiotik Rasional : Dugaan adanya infeksi/terjadinya sepsis, abses, peritonitis dan Menurunkan resiko penyebaran bakteri. 1. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan intake menurun, mual dan muntah. Tujuan : setelah dilakukan askep selama 3 x 24 jam diharapkan pasien dapat mempertahankan BB normal atau tetap dengan kriteria hasil : nafsu makan meningkat, pasien bisa menghabiskan diit yang diberikan, BB konstan atau bertambah. Intervensi dan Rasional 1. Kaji sejauh mana ketidakadekuatan nutrisi klien Rasional : menganalisa penyebab melaksanakan intervensi. 1. Perkirakan / hitung pemasukan kalori, jaga komentar tentang nafsu makan sampai minimal Rasional : Mengidentifikasi kekurangan / kebutuhan nutrisi berfokus pada masalah membuat suasana negatif dan mempengaruhi masukan. 1. Timbang berat badan sesuai indikasi Rasional : Mengawasi keefektifan secara diet. 1. Beri makan sedikit tapi sering Rasional : Tidak memberi rasa bosan dan pemasukan nutrisi dapat ditingkatkan. 1. Anjurkan kebersihan oral sebelum makan Rasional : Mulut yang bersih meningkatkan nafsu makan 1. Tawarkan minum saat makan bila toleran. Rasional : Dapat mengurangi mual dan menghilangkan gas. 1. Konsul tetang kesukaan/ketidaksukaan pasien yang menyebabkan distres. Rasional : Melibatkan pasien dalam perencanaan, memampukan pasien memiliki rasa kontrol dan mendorong untuk makan. 2. Kolaborasi dengan tim gizi dalam memberi makanan yang bervariasi Rasional : Makanan yang bervariasi dapat meningkatkan nafsu makan klien. 1. Intoleransi Aktifitas berhubungan dengan keadaan nyeri yang mengakibatkan terjadinya penurunan pergerakan akibat nyeri akut. 2. Resiko tinggi kekurangan volume cairan tubuh b.d muntah, inflamasi peritoneum dengan cairan asing, muntah praoperasi, pembatasan pasca operasi Tujuan : setelah dilakukan askep selama 2 x24 jam diharapkan tidak terjadi kekurangan cairan dengan Kriteria hasil;Membran mukosa lembab, Turgor kulit baik, Haluaran urin adekuat: 1 cc/kg BB/jam, Tanda vital stabil Intervensi: 1. Awasi tekanan darah dan tanda vial 2. Kaji turgor kulit, membran mukosa, capilary refill 3. Monitor masukan dan haluaran . Catat warna urin/konsentrasi 4. Auskultasi bising usus. Catat kelancara flatus 5. Berikan perawatan mulut sering 6. Berikan sejumlah kecil minuman jernih bila pemasukan peroral dimulai dan lanjutkan dengan diet sesuai toleransi 7. Kolaborasi dengan tim medis dalam memberikan cairan IV dan Elektrolit. 1. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan yang dirasakan Tujuan : setelah dilakukan askep selama 2 x 24 jam diharapkan klien dan keluarga mampu merawat diri sendiri Intervensi dan Rasional 1. Mandikan pasien setiap hari sampai klien mampu melaksanakan sendiri serta cuci rambut dan potong kuku klien. Rasional : Agar badan menjadi segar, melancarkan peredaran darah dan meningkatkan kesehatan. 1. Ganti pakaian yang kotor dengan yang bersih. Rasional : Untuk melindungi klien dari kuman dan meningkatkan rasa nyaman 1. Berikan HE pada klien dan keluarganya tentang pentingnya kebersihan diri. Rasional : Agar klien dan keluarga dapat termotivasi untuk menjaga personal hygiene. 1. Berikan pujian pada klien tentang kebersihannya. Rasional : Agar klien merasa tersanjung dan lebih kooperatif dalam kebersihan 1. Bimbing keluarga klien memandikan / menyeka pasien Rasional : Agar keterampilan dapat diterapkan 1. Bersihkan dan atur posisi serta tempat tidur klien. Rasional : Klien merasa nyaman dengan tenun yang bersih serta mencegah terjadinya infeksi. 1. Kurang pengetahuan tentang kondisi prognosis dan kebutuhan pengobatan b.d kurang informasi. Tujuan : Setelah dilakukan askep selama 1 x 24 jam diharapkan pasien dapat mengerti tentang kondisi yang dihadapi saat ini dengan kriteria hasil : Menyatakan pemahamannya tentang proese penyakit, pengobatan, Berpartisipasi dalam program pengobatan, Klien akan memahami manfaat perawatan post operatif dan pengobatannya. Intervensi dan Rasional 1. Jelaskan pada klien tentang latihan-latihan yang akan digunakan setelah operasi. Rasional : Klien dapat memahami dan dapat merencanakan serta dapat melaksanakan setelah operasi, sehingga dapat mengembalikan fungsi-fungsi optimal alat-alat tubuh. 2. Kaji ulang pembatasan aktivitas paska operasi 3. Dorong aktivitas sesuai toleransi dengan periode istirahat periodik 4. Identifikasi gejala yang memerlukan evaluasi medik, contoh peningkatan nyeri, edema/eritema luka, adanya drainase. 5. Menganjurkan aktivitas yang progresif dan sabar menghadapi periode istirahat setelah operasi. Rasional : Mencegah luka baring dan dapat mempercepat penyembuhan. 1. Disukusikan kebersihan insisi yang meliputi pergantian verband, pembatasan mandi, dan penyembuhan latihan. Rasional : Mengerti dan mau bekerja sama melalui teraupeutik dapat mempercepat proses penyembuhan. Daftar Pustaka Doenges, Marylinn E. (2000), Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, Penerbit Buku Kedokteran, EGC. Jakarta. Henderson, M.A. (1992), Ilmu Bedah Perawat, Yayasan Mesentha Medica, Jakarta. Mansjoer, A. (2001). Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Media Aesculapius FKUI Price, SA. (2005). Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Edisi 6. Jakarta : EGC Price, SA, Wilson,LM. (1994). Patofisiologi Proses-Proses Penyakit, Buku Pertama. Edisi 4. Jakarta. EGC Schwartz, Seymour, (2000), Intisari Prinsip-Prinsip Ilmu Bedah, Penerbit Buku Kedokteran, EGC. Jakarta. Smeltzer, Suzanne C, (2001), Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah, Volume 2, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta Smeltzer, Bare (1997). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Brunner & suddart. Edisi 8. Volume 2. Jakarta, EGC
LAPORAN PENDAHULUAN DIABETES MELLITUS
I. KONSEP MEDIS A. Pengertian Diabetes mellitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia. (Brunner dan Suddarth, 2002). Diabetes Mellitus adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang disebabkan oleh karena adanya peningkatan kadar gula (glukosa) darah akibat kekurangan insulin baik absolut maupun relatif (Arjatmo, 2002). B. Klasifikasi Klasifikasi diabetes mellitus sebagai berikut : 1. Tipe I : Diabetes mellitus tergantung insulin (IDDM) 2. Tipe II : Diabetes mellitus tidak tergantung insulin (NIDDM) 3. Diabetes mellitus yang berhubungan dengan keadaan atau sindrom lainnya 4. Diabetes mellitus gestasional (GDM) C. Etiologi 1. Diabetes tipe I: a. Faktor genetik Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri; tetapi mewarisi suatu predisposisi atau kecenderungan genetik ke arah terjadinya DM tipe I. Kecenderungan genetik ini ditemukan pada individu yang memiliki tipe antigen HLA. b. Faktor-faktor imunologi Adanya respons otoimun yang merupakan respons abnormal dimana antibodi terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya seolah-olah sebagai jaringan asing. Yaitu otoantibodi terhadap sel-sel pulau Langerhans dan insulin endogen. c. Faktor lingkungan Virus atau toksin tertentu dapat memicu proses otoimun yang menimbulkan destruksi selbeta. 2. Diabetes Tipe II Mekanisme yang tepat yang menyebabkan resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin pada diabetes tipe II masih belum diketahui. Faktor genetik memegang peranan dalam proses terjadinya resistensi insulin. Faktor-faktor resiko : a. Usia (resistensi insulin cenderung meningkat pada usia di atas 65 th) b. Obesitas c. Riwayat keluarga D. Tanda dan Gejala Keluhan umum pasien DM seperti poliuria, polidipsia, polifagia pada DM umumnya tidak ada. Sebaliknya yang sering mengganggu pasien adalah keluhan akibat komplikasi degeneratif kronik pada pembuluh darah dan saraf. Pada DM lansia terdapat perubahan patofisiologi akibat proses menua, sehingga gambaran klinisnya bervariasi dari kasus tanpa gejala sampai kasus dengan komplikasi yang luas. Keluhan yang sering muncul adalah adanya gangguan penglihatan karena katarak, rasa kesemutan pada tungkai serta kelemahan otot (neuropati perifer) dan luka pada tungkai yang sukar sembuh dengan pengobatan lazim. Menurut Supartondo, gejala-gejala akibat DM pada usia lanjut yang sering ditemukan adalah : 1. Katarak 2. Glaukoma 3. Retinopati 4. Gatal seluruh badan 5. Pruritus Vulvae 6. Infeksi bakteri kulit 7. Infeksi jamur di kulit 8. Dermatopati 9. Neuropati perifer 10. Neuropati viseral 11. Amiotropi 12. Ulkus Neurotropik 13. Penyakit ginjal 14. Penyakit pembuluh darah perifer 15. Penyakit koroner 16. Penyakit pembuluh darah otak 17. Hipertensi Osmotik diuresis akibat glukosuria tertunda disebabkan ambang ginjal yang tinggi, dan dapat muncul keluhan nokturia disertai gangguan tidur, atau bahkan inkontinensia urin. Perasaan haus pada pasien DM lansia kurang dirasakan, akibatnya mereka tidak bereaksi adekuat terhadap dehidrasi. Karena itu tidak terjadi polidipsia atau baru terjadi pada stadium lanjut. Penyakit yang mula-mula ringan dan sedang saja yang biasa terdapat pada pasien DM usia lanjut dapat berubah tiba-tiba, apabila pasien mengalami infeksi akut. Defisiensi insulin yang tadinya bersifat relatif sekarang menjadi absolut dan timbul keadaan ketoasidosis dengan gejala khas hiperventilasi dan dehidrasi, kesadaran menurun dengan hiperglikemia, dehidrasi dan ketonemia. Gejala yang biasa terjadi pada hipoglikemia seperti rasa lapar, menguap dan berkeringat banyak umumnya tidak ada pada DM usia lanjut. Biasanya tampak bermanifestasi sebagai sakit kepala dan kebingungan mendadak. Pada usia lanjut reaksi vegetatif dapat menghilang. Sedangkan gejala kebingungan dan koma yang merupakan gangguan metabolisme serebral tampak lebih jelas. E. Pemeriksaan Penunjang 1. Glukosa darah sewaktu 2. Kadar glukosa darah puasa 3. Tes toleransi glukosa Kadar darah sewaktu dan puasa sebagai patokan penyaring diagnosis DM (mg/dl) Bukan DM Belum pasti DM DM Kadar glukosa darah sewaktu - Plasma vena - Darah kapiler Kadar glukosa darah puasa - Plasma vena - Darah kapiler < 100 <80 <110 <90 100-200 80-200 110-120 90-110 >200 >200 >126 >110 Kriteria diagnostik WHO untuk diabetes mellitus pada sedikitnya 2 kali pemeriksaan : 1. Glukosa plasma sewaktu >200 mg/dl (11,1 mmol/L) 2. Glukosa plasma puasa >140 mg/dl (7,8 mmol/L) 3. Glukosa plasma dari sampel yang diambil 2 jam kemudian sesudah mengkonsumsi 75 gr karbohidrat (2 jam post prandial (pp) > 200 mg/dl F. Penatalaksanaan Tujuan utama terapi diabetes mellitus adalah mencoba menormalkan aktivitas insulin dan kadar glukosa darah dalam upaya untuk mengurangi komplikasi vaskuler serta neuropati. Tujuan terapeutik pada setiap tipe diabetes adalah mencapai kadar glukosa darah normal. Ada 5 komponen dalam penatalaksanaan diabetes : 1. Diet 2. Latihan 3. Pemantauan 4. Terapi (jika diperlukan) 5. Pendidikan II. KONSEP KEPERAWATAN 1. Pengkajian § Riwayat Kesehatan Keluarga Adakah keluarga yang menderita penyakit seperti klien ? § Riwayat Kesehatan Pasien dan Pengobatan Sebelumnya Berapa lama klien menderita DM, bagaimana penanganannya, mendapat terapi insulin jenis apa, bagaimana cara minum obatnya apakah teratur atau tidak, apa saja yang dilakukan klien untuk menanggulangi penyakitnya. § Aktivitas/ Istirahat : Letih, Lemah, Sulit Bergerak / berjalan, kram otot, tonus otot menurun. § Sirkulasi Adakah riwayat hipertensi,AMI, klaudikasi, kebas, kesemutan pada ekstremitas, ulkus pada kaki yang penyembuhannya lama, takikardi, perubahan tekanan darah § Integritas Ego Stress, ansietas § Eliminasi Perubahan pola berkemih ( poliuria, nokturia, anuria ), diare § Makanan / Cairan Anoreksia, mual muntah, tidak mengikuti diet, penurunan berat badan, haus, penggunaan diuretik. § Neurosensori Pusing, sakit kepala, kesemutan, kebas kelemahan pada otot, parestesia,gangguan penglihatan. § Nyeri / Kenyamanan Abdomen tegang, nyeri (sedang / berat) § Pernapasan Batuk dengan/tanpa sputum purulen (tergangung adanya infeksi / tidak) § Keamanan Kulit kering, gatal, ulkus kulit. 2. Diagnosa Keperawatan 1. Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan berhubungan dengan penurunan masukan oral, anoreksia, mual, peningkatan metabolisme protein, lemak. 2. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan diuresis osmotik. 3. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan perubahan status metabolik (neuropati perifer). 4. Kelelahan berhubungan dengan penurunan produksi energy metabolic, perubahan kimia darah ; insufisiensi insulin,peningkatan kebutuhan energy ; status hipermetabolik/infeksi. 5. Resiko terjadi injury berhubungan dengan penurunan fungsi penglihatan 3. Intervensi 1. Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan berhubungan dengan penurunan masukan oral, anoreksia, mual, peningkatan metabolisme protein, lemak. Tujuan : kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi Kriteria Hasil : § Pasien dapat mencerna jumlah kalori atau nutrien yang tepat § Berat badan stabil atau penambahan ke arah rentang biasanya Intervensi : § Timbang berat badan setiap hari atau sesuai dengan indikasi. § Tentukan program diet dan pola makan pasien dan bandingkan dengan makanan yang dapat dihabiskan pasien. § Auskultasi bising usus, catat adanya nyeri abdomen / perut kembung, mual, muntahan makanan yang belum sempat dicerna, pertahankan keadaan puasa sesuai dengan indikasi. § Berikan makanan cair yang mengandung zat makanan (nutrien) dan elektrolit dengan segera jika pasien sudah dapat mentoleransinya via oral. § Libatkan keluarga pasien pada pencernaan makan ini sesuai dengan indikasi. § Observasi tanda-tanda hipoglikemia seperti perubahan tingkat kesadaran, kulit lembab/dingin, denyut nadi cepat, lapar, peka rangsang, cemas, sakit kepala. § Kolaborasi melakukan pemeriksaan gula darah. § Kolaborasi pemberian pengobatan insulin. § Kolaborasi dengan ahli diet. 2. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan diuresis osmotik. Tujuan : kebutuhan cairan atau hidrasi pasien terpenuhi Kriteria Hasil : Pasien menunjukkan hidrasi yang adekuat dibuktikan oleh tanda vital stabil, nadi perifer dapat diraba, turgor kulit dan pengisian kapiler baik, haluaran urin tepat secara individu dan kadar elektrolit dalam batas normal. Intervensi : § Pantau tanda-tanda vital, catat adanya perubahan TD ortostatik R : Hipovolemia dapat dimanifestasikan oleh hipotensi dan takikardia. Perkiraan berat ringannya hipovolemia dapat dibuat ketika tekanan darah sistolik pasien turun lebih dari 10 mmHg dari posisi berbaring keposisi duduk/berdiri. Catatan ; Neuropati jantung dapat memutuskan reflex-refleks yang secara normal meningkatkan denyut jantung. § Pantau pola nafas seperti adanya pernafasan kusmaul R : Paru-paru mengeluarkan asam karbonat melalui pernapasan yang menghasilkan kompensasi alkalosis respiratorius terhadap keadaan ketoasidosis. § Kaji frekuensi dan kualitas pernafasan, penggunaan otot bantu nafas R : Koreksi hiperglikemia dan asidosis akan menyebabkan pola dan frekuensi pernapasan mendekati normal. § Kaji nadi perifer, pengisian kapiler, turgor kulit dan membran mukosa R : Merupakan indicator dari tingkat dehidrasi, volume sirkulasi yang adekuat. § Pantau masukan dan pengeluaran R : Memberikan perkiraan kebutuhan cairan pengganti fungsi ginjal, dan keefektifan dari terapi yang diberikan. § Pertahankan untuk memberikan cairan paling sedikit 2500 ml/hari dalam batas yang dapat ditoleransi jantung R : Mempertahankan hidrasi / volume sirkulasi § Catat hal-hal seperti mual, muntah dan distensi lambung. R : Kekurangan cairan dan elektrolit mengubah motilitas lambung, yang seringkali akan menimbulkan muntah dan secara potensial akan menimbulkan kekurangan cairan atau elektrolit. § Obs kelelahan yang meningkat, edema, peningkatan BB, nadi tidak teratur R : Pemberian cairan untuk perbaikan yang cepatm mungkin sangat berpotensi menimbulkan kelebihan beban cairan dan GJK. § Kolaborasi : berikan terapi cairan normal salin dengan atau tanpa dextrosa, pantau pemeriksaan laboratorium (Ht, BUN, Na, K) 3. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan perubahan status metabolik (neuropati perifer). Tujuan : gangguan integritas kulit dapat berkurang atau menunjukkan penyembuhan. Kriteria Hasil : Kondisi luka menunjukkan adanya perbaikan jaringan dan tidak terinfeksi Intervensi : § Kaji luka, adanya epitelisasi, perubahan warna, edema, dan discharge, frekuensi ganti balut. § Kaji tanda vital § Kaji adanya nyeri § Lakukan perawatan luka § Kolaborasi pemberian insulin dan medikasi. § Kolaborasi pemberian antibiotik sesuai indikasi. 4. Kelelahan berhubungan dengan penurunan produksi energy metabolic, perubahan kimia darah ; insufisiensi insulin,peningkatan kebutuhan energy ; status hipermetabolik/infeksi. Tujuan : Pasien tidak kelelahan. Kriteria Hasil : Mengungkapkan peningkatan tingkat energy, menunjukan perbaikan kemampuan untuk berpartisispasi dalam aktivitas yang diinginkan. Intervensi : § Diskusikan dengan pasien kebutuhan akan aktivitas. R : Pendidikan dapat memberikan motivasi untuk meningkatkan tingkat aktivitas meskipun pasien mungkin sangat lemah. § Berikan aktivitas alternative dengan periode istirahat yang cukup/tanpa diganggu. R : Mencegah kelelahan yang berlebihan § Pantau nadi, frekuensi pernapasan dan tekanan darah sebelum/ sesudah melakukan aktivitas R : Mengindikasikan tingkat aktivitas yang dapat ditoleransi secara fisiologis. § Diskusikan cara menghemat kalori selama mandi, berpindah tempat dan sebagainya. R : Pasien akan dapat melakukan lebih banyak kegiatan dengan penurunan kebutuhan akan energy pada setiap kegiatan. § Tingkatkan partisipasi pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari sesuai dengan yang dapat ditoleransi. R : Meningkatkan kepercayaan diri/ harga diri yang positif sesuai tingkat aktivitas yang dapat ditoleransi paisen. 5. Resiko terjadi injury berhubungan dengan penurunan fungsi penglihatan Tujuan : pasien tidak mengalami injury Kriteria Hasil : pasien dapat memenuhi kebutuhannya tanpa mengalami injury Intervensi : § Hindarkan lantai yang licin. § Gunakan bed yang rendah. § Orientasikan klien dengan ruangan. § Bantu klien dalam melakukan aktivitas sehari-hari § Bantu pasien dalam ambulasi atau perubahan posisi 4. Implementasi Implementasi merupakan pelaksanaan rencana keperawatan oleh perawat terhadap pasien. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan rencana keperawatan diantaranya : Intervensi dilaksanakan sesuai dengan rencana setelah dilakukan validasi ; ketrampilan interpersonal, teknikal dan intelektual dilakukan dengan cermat dan efisien pada situasi yang tepat, keamanan fisik dan psikologis klien dilindungi serta dokumentasi intervensi dan respon pasien. 5. Evaluasi Evaluasi merupakan langkah terakhir dalam proses keperawatan, dimana evaluasi adalah kegiatan yang dilakukan secara terus menerus dengan melibatkan pasien, perawat dan anggota tim kesehatan lainnya. Tujuan dari evaluasi ini adalah untuk menilai apakah tujuan dalam rencana keperawatan tercapai dengan baik atau tidak dan untuk melakukan pengkajian ulang (US. Midar H, dkk, 1989). Evaluasi pada klien dengan DM yaitu : 1) Kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi 2) Kebutuhan cairan atau hidrasi pasien terpenuhi 3) Gangguan integritas kulit dapat berkurang atau menunjukkan penyembuhan. 4) Pasien tidak kelelahan. 5) Pasien tidak mengalami injury DAFTAR PUSTAKA Luecknote, Annette Geisler, Pengkajian Gerontologi alih bahasa Aniek Maryunani, Jakarta:EGC, 1997. Doenges, Marilyn E, Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien edisi 3 alih bahasa I Made Kariasa, Ni Made Sumarwati, Jakarta : EGC, 1999. Carpenito, Lynda Juall, Buku Saku Diagnosa Keperawatan edisi 6 alih bahasa YasminAsih, Jakarta : EGC, 1997. Smeltzer, Suzanne C, Brenda G bare, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth Edisi 8 Vol 2 alih bahasa H. Y. Kuncara, Andry Hartono, Monica Ester, Yasmin asih, Jakarta : EGC, 2002. Ikram, Ainal, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam : Diabetes Mellitus Pada Usia Lanjut jilid I Edisi ketiga , Jakarta : FKUI, 1996. Arjatmo Tjokronegoro. Penatalaksanaan Diabetes Melitus Terpadu .Cet 2. Jakarta : Balai Penerbit FKUI, 2002
LAPORAN PENDAHULUANSTRUMA
A. KONSEP MEDIK 1. Pengertian struma nodosa non toksik Struma nodosa non toksik adalah pembesaran kelenjar tyroid yang secara klinik teraba nodul satu atau lebih tanpa disertai tanda-tanda hypertiroidisme. (Sri Hartini, Ilmu Penyakit Dalam, jilid I, hal. 461, FKUI, 1987). 2. Anatomi fisiologi kelenjar tyroid a. Anatomi Kelenjar tyroid terdiri dari dua lobus yang berkapsul, yang terletak di sebelah kanan dan kiri trakea. Kedua lobus dihubungkan oleh isthmus yang menyilang trakea sedikit di bawah kartilago krikoid. Berat kelenjar tyroid normal pada orang dewasa adalah sekitar 15 – 20 gram. Setiap lobus mempunyai diameter vertikal 2 – 3 cm dan tebal 1 cm. Volume kelenjar tyroid dapat diperkirakan antara 10 – 30 cm pada orang normal. b. Fisiologi Kelenjar tyroid menghasilkan hormon tyroid utama yaitu tiroksin (T4). Bentuk aktif hormon T4. bentuk aktif ini adalah trydotironin (T3), yang sebagian besar berasal dari konversi hormon T4, di perifer dan sebagian kecil langsung dibentuk oleh kelenjar tyroid. Kelenjar tyroid terdiri dari folikel-fiolikel yang berisi larutan koloid. Hormon ini merangsang penggunaan O2 pada kebanyakan sel tubuh, mengatur metabolisme lemak, hidrat arang dan sangat diperlukan untuk pertumbuhan. Fungsi kelenjar tyroid dipengaruhi oleh TSH (tyroid stimulating hormon) dari hipofisis anterior. Apabila TSH menurun dapat terjadi atropi tyroid dan apabila TSH meningkat, hormon tyroid juga meningkat yang kemudian melalui mekanisme feed back akan menekan fungsi hypofisis. Sebaliknya apabila hormon tyroid berkurang akan merangsang hypofisis untuk mengeluarkan TSH lebih banyak. Oleh karena itu apabila hormon tyroid berkurang akan mengakibakan hyperplasia dan pembesaran kelenjar tyroid. Proses hyperplasia cenderung lokal dan tersebar, sehingga menimbulkan benjolan-benjolan (noduli). 3. Etiologi Adanya gangguan fungsional dalam pembentukan hormon tyroid merupakan faktor penyebab pembesaran kelenjar tyroid antara lain : a. Defisiensi iodium Pada umumnya, penderita penyakit struma sering terdapat di daerah yang kondisi air minum dan tanahnya kurang mengandung iodium, misalnya daerah pegunungan. b. Kelainan metabolik kongenital yang menghambat sintesa hormon tyroid. c. Penghambatan sintesa hormon oleh zat kimia (seperti substansi dalam kol, lobak, kacang kedelai). d. Penghambatan sintesa hormon oleh obat-obatan (misalnya : thiocarbamide, sulfonylurea dan litium). 4. Patofisiologi Iodium merupakan semua bahan utama yang dibutuhkan tubuh untuk pembentukan hormon tyroid. Bahan yang mengandung iodium diserap usus, masuk ke dalam sirkulasi darah dan ditangkap paling banyak oleh kelenjar tyroid. Dalam kelenjar, iodium dioksida menjadi bentuk yang aktif yang distimuler oleh TSH kemudian disatukan menjadi molekul tiroksin yang terjadi pada fase sel koloid. Senyawa yang terbentuk dalam molekul diyodotironin membentuk tiroksin (T4) dan molekul yoditironin (T3). Tiroksin (T4) menunjukkan pengaturan umpan balik negatif dari sekresi TSH dan bekerja langsung pada tirotropihypofisis, sedang tyrodotironin (T3) merupakan hormon metabolik tidak aktif. Beberapa obat dan keadaan dapat mempengaruhi sintesis, pelepasan dan metabolisme tyroid sekaligus menghambat sintesis tiroksin (T4) dan melalui rangsangan umpan balik negatif meningkatkan pelepasan TSH oleh kelenjar hypofisis. Keadaan ini menyebabkan pembesaran kelenjar tyroid. 5. Gejala-gejala Pada penyakit struma nodosa nontoksik tyroid membesar dengan lambat. Awalnya kelenjar ini membesar secara difus dan permukaan licin. Jika struma cukup besar, akan menekan area trakea yang dapat mengakibatkan gangguan pada respirasi dan juga esofhagus tertekan sehingga terjadi gangguan menelan. 6. Diagnosis Diagnosis dapat ditegakkan atas dasar adanya struma yang bernodul dan tidak toksik, melalui : a. Pada palpasi teraba batas yang jelas, bernodul satu atau lebih, konsistensinya kenyal. b. Pada pemeriksaan laboratorium, ditemukan serum T4 (troksin) dan T3 (triyodotironin) dalam batas normal. c. Pada pemeriksaan USG (ultrasonografi) dapat dibedakan padat atau tidaknya nodul. d. Kepastian histologi dapat ditegakkan melalui biopsi yang hanya dapat dilakukan oleh seorang tenaga ahli yang berpengalaman. 7. Penatalaksanaan a. Pencegahan Dengan pemberian kapsul minyak beriodium terutama bagi penduduk di daerah endemik sedang dan berat. · Edukasi Program ini bertujuan merubah prilaku masyarakat, dalam hal pola makan dan memasyarakatkan pemakaian garam beriodium. · Penyuntikan lipidol Sasaran penyuntikan lipidol adalah penduduk yang tinggal di daerah endemik diberi suntikan 40 % tiga tahun sekali dengan dosis untuk orang dewasa dan anak di atas enam tahun 1 cc, sedang kurang dari enam tahun diberi 0,2 cc – 0,8 cc. b. Tindakan operasi Pada struma nodosa non toksik yang besar dapat dilakukan tindakan operasi bila pengobatan tidak berhasil, terjadi gangguan misalnya : penekanan pada organ sekitarnya, indikasi, kosmetik, indikasi keganasan yang pasti akan dicurigai. B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN Dalam melaksanakan asuhan keperawatan, penulis menggunakan pedoman asuhan keperawatan sebagai dasar pemecahan masalah pasien secara ilmiah dan sistematis yang meliputi tahap pengkajian, perencanaan keperawatan, tindakan keperawatan dan evaluasi keperawatan. 1. Pengkajian Pengkajian merupakan langkah awal dari dasar dalam proses keperawatan secara keseluruhan guna mendapat data atau informasi yang dibutuhkan untuk menentukan masalah kesehatan yang dihadapi pasien melalui wawancara, observasi, dan pemeriksaan fisik meliputi : a. Aktivitas/istirahat Data subyektif : insomnia, otot lemah, gangguan koordinasi, kelelahan berat. Data obyektif : atrofi otot. b. Eliminasi Data subyektif : urine dalam jumlah banyak, perubahan dalam faeces, diare. c. Integritas ego Data subyektif : mengalami stres yang berat baik emosional maupun fisik. Data obyektif : emosi labil, depresi. d. Makanan/cairan Data subyektif : kehilangan berat badan yang mendadak, nafsu makan meningkat, makan banyak, makannya sering, kehausan, mual dan muntah. Data obyektif : pembesaran tyroid, goiter. e. Rasa nyeri/kenyamanan Data subyektif : nyeri orbital, fotofobia. f. Pernafasan Data subyektif : frekuensi pernafasan meningkat, takipnea, dispnea, edema paru (pada krisis tirotoksikosis). g. Keamanan Data subyektif : tidak toleransi terhadap panas, keringat yang berlebihan, alergi terhadap iodium (mungkin digunakan pada pemeriksaan). Data obyektif : suhu meningkat di atas 37,40C, diaforesis, kulit halus, hangat dan kemerahan, rambut tipis, mengkilat dan lurus, eksoptamus : retraksi, iritasi pada konjungtiva dan berair, pruritus, lesi eritema (sering terjadi pada pretibial) yang menjadi sangat parah. h. Seksualitas Data subyktif : libido menurun, perdarahan sedikit atau tidak sama sekali, impotensi. Setelah kseluruhan data terkumpul, selanjutnya dikelompokkan menjadi dua kelompok yaitu : a. Data subyektif Data subyektif mencakup gangguan koordinasi insomnia, perubahan pola eliminasi, kemampuan untuk menangani tekanan-tekanan (stress), penurunan berat badan, nafsu makan meningkat, nyeri orbital, frekuensi pernafasan meningkat, daya penyesuaian terhadap panas dan dingin, libido menurun. b. Data obyektif Hal ini ditandai dengan adanya atropi otot, emosi labil, depresi, pembesaran tiroid, goiter, peningkatan suhu di atas 37,40 C, diaphoresis, sifat dan ciri-ciri tubuh, keadaan rambut termasuk kualitasnya serta keadaan mata. Langkah selanjutnya adalah penentuan diagnosa keperawatan yang merupakan suatu pernyataan dan masalah pasien secara nyata maupun potensial berdasarkan data yang terkumpul. Diagnosa keperawatan pada pasien dengan struma nodosa nontoksis khususnya post operai dapat dirumuskan sebagai berikut ; a. Resiko tinggi terjadi ketidakefektivan bersihan jalan nafas berhubungan dengan obstruksi trakea, pembengkakan, perdarahan dan spasme laringeal, ditandai dengan : Data subyektif : sakit menelan, nyeri luka operasi. Data obyektif : pernafasan cepat dan dalam, ada sekret/lendir. b. Gamgguan komunikasi verbal berhubungan dengan cedera pita suara/kerusakan laring, edema jaringan, nyeri, ketidaknyamanan, ditandai dengan : Data subyektif : pembengkakan pada jaringan keronkongan, rasa nyeri pada luka, pasien tidak merasa nyaman, sakit menelan. c. Resiko tinggi terhadap cedera/tetani berhubungan dengan proses pembedahan, rangsangan pada sistem saraf pusat, ditandai dengan : Data subyektif : pernafasan cepat (takipnea), nyeri luka operasi. Data obyektif : peningkatan suhu tubuh, takikardi, cyanosis, kejang, mati rasa, dan infeksi pada luka operasi. d. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan dengan tindakan bedah terhadap jaringan/otot dan edema pasca operasi, ditandai dengan : Data subyektif : bertanya, meminta informasi, pernyataan salah konsepsi. Data obyektif : tidak mengikuti instruksi/terjadi komplikasi yang dapat dicegah. 2. Perencanaan keperawatan/intervensi Perencanaan keperawatan adalah penyusunan rencana tindakan yang akan dilaksanakan untuk menanggulangi masalah pasien sesuai diagnosa keperawatan yang telah ditentukan dengan tujuan utama memenuhi kebutuhan pasien. Berdasarkan diagnosa keperawatan yang diuraikan di atas, maka disusunlah rencana keperawatan/intervensi sebagai berikut : a. Resiko tinggi terjadi ketidakefektivan bersihan jalan nafas berhubungan dengan obstruksi trakea, pembengkakan, perdarahan dan spasme laryngeal, ditandai dengan : - Data subyektif : sakit menelan, nyri luka operasi. - Data obyektif : pernafasan cepat dan dalam, ada sekret/lendir yang kental di kerongkongan, dyspnoe, stridor, cyanosis. Tujuan yang ingin dicpai sesuai kriteria hasil : - Mempertahankan jalan nafas paten dengan mencegah aspirasi. Rencana tindakan/intervensi 1.) Pantau frekuensi pernafasan, kedalaman dan kerja pernafasan. Rasional : Pernafasan secara normal kadang-kadang cepat, tetapi berkembangnya distres pada pernafasan merupakan indikasi kompresi trakea karena edema atau perdarahan. 2.) Auskultasi suara nafas, catat adanya suara ronchi. Rasional : Ronchi merupakan indikasi adanya obstruksi.spasme laringeal yang membutuhkan evaluasi dan intervensi yang cepat. 3.) Kaji adanya dispnea, stridor, dan sianosis. Perhatikan kualitas suara. Rasional : Indikator obstruksi trakea/spasme laring yang membutuhkan evaluasi dan intervensi segera. 4.) Waspadakan pasien untuk menghindari ikatan pada leher, menyokog kepala dengan bantal. Rasional : Menurunkan kemungkinan tegangan pada daerah luka karena pembedahan. 5.) Bantu dalam perubahan posisi, latihan nafas dalam dan atau batuk efektif sesuai indikasi. Rasional : Mempertahankan kebersihan jalan nafas dan evaluasi. Namun batuk tidak dianjurkan dan dapat menimbulkan nyeri yang berat, tetapi hal itu perlu untuk membersihkan jalan nafas. 6.) Lakukan pengisapan lendir pada mulut dan trakea sesuai indikasi, catat warna dan karakteristik sputum. Rasional : Edema atau nyeri dapat mengganggu kemampuan pasien untuk mengeluarkan dan membersihkan jalan nafas sendiri. 7.) Lakukan penilaian ulang terhadap balutan secara teratur, terutama pada bagian posterior Rasional : Jika terjadi perdarahan, balutan bagian anterior mungkin akan tampak kering karena darah tertampung/ terkumpul pada daerah yang tergantung. 8.) Selidiki kesulitan menelan, penumpukan sekresi oral. Rasional : Merupakan indikasi edema/perdarahan yang membeku pada jaringan sekitar daerah operasi. 9.) Pertahankan alat trakeosnomi di dekat pasien. Rasional : Terkenanya jalan nafas dapat menciptakan suasana yang mengancam kehidupan yang memerlukan tindakan yang darurat. 10.) Pembedahan tulang Rasional : Mungkin sangat diperlukan untuk penyambungan/perbaikan pembuluh darah yang mengalami perdarahan yang terus menerus. b. Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan cedera pita suara/kerusakan saraf laring, edema jaringan, nyeri, ketidaknyamanan, ditandai dengan : - Data subyektif : pembengkakan pada jaringan kerongkongan, rasa nyeri pada luka, pasien tidak merasa nyaman, sakit menelan. - Data obyektif : tidak dapat berbicara, menggunakan bahasa isyarat. Tujuan yang ingin dicapai sesuai kriteria hasil : - Mampu menciptakan metode komunikasi dimana kebutuhan dapat dipahami. Rencana tindakan/intervensi 1.) Kaji fungsi bicara secara periodik. Rasional : Suara serak dan sakit tenggorok akibat edema jaringan atau kerusakan karena pembedahan pada saraf laringeal yang berakhir dalam beberapa hari kerusakan saraf menetap dapat terjadi kelumpuhan pita suara atau penekanan pada trakea. 2.) Pertahankan komunikasi yang sederhana, beri pertanyaan yang hanya memerlukan jawaban ya atau tidak. Rasional : Menurunkan kebutuhan berespon, mengurangi bicara. 3.) Memberikan metode komunikasi alternatif yang sesuai, seperti papan tulis, kertas tulis/papan gambar. Rasional : Memfasilitasi eksprsi yang dibutuhkan. 4.) Antisipasi kebutuhan sebaik mungkin. Kunjungan pasien secara teratur. Rasional ; Menurunnya ansietas dan kebutuhan pasien untuk berkomunias. 5.) Beritahu pasien untuk terus menerus membatasi bicara dan jawablah bel panggilan dengan segera. Rasional : Mencegah pasien bicara yang dipaksakan untuk menciptakan kebutuhan yang diketahui/memerlukan bantuan. 6.) Pertahankan lingkungan yang tenang. Rasional : Meningkatkan kemampuan mendengarkan komunikasi perlahan dan menurunkan kerasnya suara yang harus diucapkan pasien untuk dapat didengarkan. c. Resiko tinggi terhadap cedera/tetani berhubungan dengan proses pembedahan, rangsangan pada sistem saraf pusat, ditandai dengan : - Data subyektif : pernafasan cepat (takipnea), nyeri luka operasi. - Data obyektif : peningkatan suhu tubuh, tachicardi, cyanosis, kejang, mati rasa dan infeksi pada luka operasi. Tujuan yang ingin dicapai sesuai kriteria hasil : - Menunjukkan tidak ada cedera dengan komplikasi terpenuhi/terkontrol. Rencana tindakan/intervensi 1.) Pantau tanda-tanda vital dan catat adanya peningkatan suhu tubuh, takikardi (140 – 200/menit), disrtrimia, syanosis, sakit waktu bernafas (pembengkakan paru). Rasional : Manipulasi kelenjar selama pembedahan dapat mengakibatkan peningkatan pengeluaran hormon yang menyebabkan krisis tyroid. 2.) Evaluasi reflesi secara periodik. Observasi adanya peka rangsang, misalnya gerakan tersentak, adanya kejang, prestesia. Rasional : Hypolkasemia dengan tetani (biasanya sementara) dapat terjadi 1 – 7 hari pasca operasi dan merupakan indikasi hypoparatiroid yang dapat terjadi sebagai akibat dari trauma yang tidak disengaja pada pengangkatan parsial atau total kelenjar paratiroid selama pembedahan. 3.) Pertahankan penghalang tempat tidur/diberi bantalan, tmpat tidur pada posisi yang rendah. Rasional : Menurunkan kemungkinan adanya trauma jika terjadi kejang. 4.) Memantau kadar kalsium dalam serum. Rasional : Kalsium kurang dari 7,5/100 ml secara umum membutuhkan terapi pengganti. 5.) Kolaborasi Berikan pengobatan sesuai indikasi (kalsium/glukonat, laktat). Rasional ; Memperbaiki kekurangan kalsium yang biasanya sementara tetapi mungkin juga menjadi permanen. d. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan tindakan bedah terhadap jaringan/otot dan paska operasi ditandai dengan : - Data subyektif : nyeri luka operasi, sakit menelan. - Data obyektif : lendir kental di kerongkongan, edema sekitar luka operasi. Tujuan yang ingin dicapai sesuai kriteria hasil : - Melaporkan nyeri hilang atau terkontrol. Menunjukkan kemampuan mengadakan relaksasi dan mengalihkan perhatian dengan aktif sesuai situasi. Rencana tindakan/intervensi : 1.) Kaji tanda-tanda adanya nyeri baik verbal maupun non verbal, catat lokasi, intensitas (skala 0 – 10) dan lamanya. Rasional : Bermanfaat dalam mengevaluasi nyeri, menentukan pilihan intervensi, menentukan efektivitas terapi. 2.) Letakkan pasien dalam posisi semi fowler dan sokong kepala/leher dengan bantal pasir/bantal kecil. Rasional : Mencegah hiperekstensi leher dan melindungi integritas gari jahitan. 3.) Pertahankan leher/kepala dalam posisi netral dan sokong selama perubahan posisi. Instruksikan pasien menggunakan tangannya untuk menyokong leher selama pergerakan dan untuk menghindari hiperekstensi leher. Rasional : Mencegah stress pada garis jahitan dan menurunkan tegangan otot. 4.) Letakkan bel dan barang yang sering digunakan dalam jangkauan yang mudah. Rasional : Membatasi ketegangan, nyeri otot pada daerah operasi. 5.) Berikan minuman yang sejuk/makanan yang lunak ditoleransi jika pasien mengalami kesulitan menelan. Rasional : Menurunkan nyeri tenggorok tetapi makanan lunak ditoleransi jika pasien mengalami kesulitan menelan. 6.) Anjurkan pasien untuk menggunakan teknik relaksasi, seperti imajinasi, musik yang lembut, relaksasi progresif. Rasional : Membantu untuk memfokuskan kembali perhatian dan membantu pasien untuk mengatasi nyeri/rasa tidak nyaman secara lebih efektif. 7.) Kolaborasi Beri obat analgetik dan/atau analgetik spres tenggorok sesuai kebutuhannya. 8.) Berikan es jika ada indikasi Rasional : Menurunnya edema jaringan dan menurunkan persepsi terhadap nyeri. e. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi, prognosis dan kebutuhan tindakan berhubungan dengan tidak mengungkapkan secara terbuka/mengingat kembali, setelah menginterpretasikan konsepsi. - Data subyektif : bertanya, meminta informasi, pernyataan salah konsepsi. - Data obyektif : tidak mengikuti instruksi, terjadinya komplikasi yang dapat dicegah. Tujuan yang ingin dicapai sesuai kriteria hasil : - Adanya saling pengertian tentang prosedur pembedahan dan penanganannya, berpartisipasi dalam program pengobatan, melakukan perubahan gaya hidup yang perlu. Rencana tindakan/intervensi : 1.) Tinjau ulang prosedur pembedahan dan harapan selanjutnya. Rasional ; Member pengetahuan dasar dimana pasien dapat membuat keputusan sesuai informasi. 2.) Diskusikan kebutuhan diet yang seimbang, diet bergizi dan bila dapat mencakup garam beriodium. Mempercepat penyembuhan dan membantu pasien mencapai berat badan yang sesuai dengan pemakaian garam beriodium cukup. 3.) Hindari makanan yang bersifat gastrogenik, misalnya makanan laut yang berlebihan, kacang kedelai, lobak. Rasional : Merupakan kontradiksi setelah tiroidiktomi sebab makanan ini menekan aktivitas tyroid. 4.) Identifikasi makanan tinggi kalsium (misalnya : kuning telur, hati) Rasional : Memaksimalkan suplay dan absorbsi jika fungsi kelenjar paratiroid terganggu. 5.) Dorong program latihan umum progresif Rasional : Latihan dapat menstimulasi kelenjar tyroid dan produksi hormon yang memfasilitasi pemulihan kesejahteraan. 3. Pelaksanaan keperawatan Pelaksanaan keperawatan merupakan perwujudan dari rencana keperawatan yang telah dirumuskan dalam rangka memenuhi kebutuhan pasien secara optimal dengan menggunakan keselamatan, keamanan dan kenyamanan pasien. Dalam melaksanakan keperawatan, haruslah dilibatkan tim kesehatan lain dalam tindakan kolaborasi yang berhubungan dengan pelayanan keperawatan serta berdasarkan atas ketentuan rumah sakit. 4. Evaluasi Evaluasi merupakan tahapan terakhir dari proses keperawatan yang bertujuan untuk menilai tingkat keberhasilan dari asuhan keperawatan yang telah dilaksanakan. Dari rumusan seluruh rencana keperawatan serta impelementasinya, maka pada tahap evaluasi ini akan difokuskan pada : a. Apakah jalan nafas pasien efektif? b. Apakah komunikasi verbal dari pasien lancar? c. Apakah tidak terjadi tanda-tanda infeksi? d. Apakah gangguan rasa nyaman dari pasien dapat terpenuhi? e. Apakah pasien telah mengerti tentang proses penyakitnya serta tindakan perawatan dan pengobatannya? DAFTAR PUSTAKA Doenges E. Marylnn, et all, (1999), Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi Ketiga, Penerbit Buku Kedokteran, EGC, Jakarta. Engram Barbara, (1998), Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah, Vol. 3, Penerbit : Buku Kedokteran, EGC, Jakarta. Henderson M. A, Ilmu Bedah Untuk Perawat, Yayasan Essentia Medica, Yogyakarta. Junadi Burnawan, (1982), Kapita Selekta Kedokteran, Edisi Kedua, Media Aeusculapius, FKUI, Jakarta. Moelianto Djoko R, (1996), Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid I, Edisi Ketiga, Balai Penerbit FKUI Jakarta. __________________, (1987), Ilmu Penyakit Dalam, Balai Penerbit FKUI, EGC, Jakarta
LAPORAN PENDAHULUANAMPUTASI
I. KONSEP MEDIK Amputasi berasal dari kata “amputare” yang kurang lebih diartikan “pancung”. Amputasi dapat diartikan sebagai tindakan memisahkan bagian tubuh sebagian atau seluruh bagian ekstremitas. Tindakan ini merupakan tindakan yang dilakukan dalam kondisi pilihan terakhir manakala masalah organ yang terjadi pada ekstremitas sudah tidak mungkin dapat diperbaiki dengan menggunakan teknik lain, atau manakala kondisi organ dapat membahayakan keselamatan tubuh klien secara utuh atau merusak organ tubuh yang lain seperti dapat menimbulkan komplikasi infeksi. Kegiatan amputasi merupakan tindakan yang melibatkan beberapa sistem tubuh seperti sistem integumen, sistem persyarafan, sistem muskuloskeletal dan sisten cardiovaskuler. Labih lanjut ia dapat menimbulkan madsalah psikologis bagi klien atau keluarga berupa penurunan citra diri dan penurunan produktifitas. B. Penyebab / faktor predisposisi terjadinya amputasi Tindakan amputasi dapat dilakukan pada kondisi : 1. Fraktur multiple organ tubuh yang tidak mungkin dapat diperbaiki. 2. Kehancuran jaringan kulit yang tidak mungkin diperbaiki. 3. Gangguan vaskuler/sirkulasi pada ekstremitas yang berat. 4. Infeksi yang berat atau beresiko tinggi menyebar ke anggota tubuh lainnya. 5. Adanya tumor pada organ yang tidak mungkin diterapi secara konservatif. 6. Deformitas organ. Berdasarkan pelaksanaan amputasi, dibedakan menjadi : 1. Amputasi selektif/terencana Amputasi jenis ini dilakukan pada penyakit yang terdiagnosis dan mendapat penanganan yang baik serta terpantau secara terus-menerus. Amputasi dilakukan sebagai salah satu tindakan alternatif terakhir 2. Amputasi akibat trauma Merupakan amputasi yang terjadi sebagai akibat trauma dan tidak direncanakan. Kegiatan tim kesehatan adalah memperbaiki kondisi lokasi amputasi serta memperbaiki kondisi umum klien. 3. Amputasi darurat Kegiatan amputasi dilakukan secara darurat oleh tim kesehatan. Biasanya merupakan tindakan yang memerlukan kerja yang cepat seperti pada trauma dengan patah tulang multiple dan kerusakan/kehilangan kulit yang luas. Jenis amputasi yang dikenal adalah : 1. Amputasi terbuka 2. Amputasi tertutup. Amputasi terbuka dilakukan pada kondisi infeksi yang berat dimana pemotongan pada tulang dan otot pada tingkat yang sama. Amputasi tertutup dilakukan dalam kondisi yang lebih memungkinkan dimana dibuat skaif kulit untuk menutup luka yang dibuat dengan memotong kurang lebih 5 sentimeter dibawah potongan otot dan tulang. Setelah dilakukan tindakan pemotongan, maka kegiatan selanjutnya meliputi perawatan luka operasi/ mencegah terjadinya infeksi, menjaga kekuatan otot/mencegah kontraktur, mempertahankan intaks jaringan, dan persiapan untuk penggunaan protese ( mungkin ). Berdasarkan pada gambaran prosedur tindakan pada klien yang mengalami amputasi maka perawat memberikan asuhan keperawatan pada klien sesuai dengan kompetensinya. Kegiatan keperawatan yang dilakukan pada klien dapat dibagi dalam tiga tahap yaitu pada tahap preoperatif, tahap intraoperatif, dan pada tahap postoperatif. a. Pre Operatif Pada tahap praoperatif, tindakan keperawatan lebih ditekankan pada upaya untuk mempersiapkan kondisi fisik dan psikolgis klien dalam menghadapi kegiatan operasi. Pada tahap ini, perawat melakukan pengkajian yang erkaitan dengan kondisi fisik, khususnya yang berkaitan erat dengan kesiapan tubuh untuk menjalani operasi. Perawat memfokuskan pada riwayat penyakit terdahulu yang mungkin dapat mempengaruhi resiko pembedahan seperti adanya penyakit diabetes mellitus, penyakit jantung, penyakit ginjal dan penyakit paru. Perawat juga mengkaji riwayat penggunaan rokok dan obat-obatan. Pengkajian fisik dilaksanakan untuk meninjau secara umum kondisi tubuh klien secara utuh untuk kesiapan dilaksanakannya tindakan operasi manakala tindakan amputasi merupakan tindakan terencana/selektif, dan untuk mempersiapkan kondisi tubuh sebaik mungkin manakala merupakan trauma/ tindakan darurat. Kondisi fisik yang harus dikaji meliputi : SISTEM TUBUH KEGIATAN Integumen : Kulit secara umum. Lokasi amputasi Mengkaji kondisi umum kulit untuk meninjau tingkat hidrasi. Lokasi amputasi mungkin mengalami keradangan akut atau kondisi semakin buruk, perdarahan atau kerusakan progesif. Kaji kondisi jaringan diatas lokasi amputasi terhadap terjadinya stasis vena atau gangguan venus return. Sistem Cardiovaskuler : Cardiac reserve Pembuluh darah Mengkaji tingkat aktivitas harian yang dapat dilakukan pada klien sebelum operasi sebagai salah satu indikator fungsi jantung. Mengkaji kemungkinan atherosklerosis melalui penilaian terhadap elastisitas pembuluh darah. Sistem Respirasi Mengkaji kemampuan suplai oksigen dengan menilai adanya sianosis, riwayat gangguan nafas. Sistem Urinari Mengkaji jumlah urine 24 jam. Menkaji adanya perubahan warna, BJ urine. Cairan dan elektrolit Mengkaji tingkat hidrasi. Memonitor intake dan output cairan. Sistem Neurologis Mengkaji tingkat kesadaran klien. Mengkaji sistem persyarafan, khususnya sistem motorik dan sensorik daerah yang akan diamputasi. Sistem Mukuloskeletal Mengkaji kemampuan otot kontralateral. 3. Pengkajian Psikologis, Sosial, Spiritual Disamping pengkajian secara fisik perawat melakukan pengkajian pada kondisi psikologis ( respon emosi ) klien yaitu adanya kemungkinan terjadi kecemasan pada klien melalui penilaian klien terhadap amputasi yang akan dilakukan, penerimaan klien pada amputasi dan dampak amputasi terhadap gaya hidup. Kaji juga tingkat kecemasan akibat operasi itu sendiri. Disamping itu juga dilakukan pengkajian yang mengarah pada antisipasi terhadap nyeri yang mungkin timbul. Perawat melakukan pengkajian pada gambaran diri klien dengan memperhatikan tingkat persepsi klien terhadap dirinya, menilai gambaran ideal diri klien dengan meninjau persepsi klien terhadap perilaku yang telah dilaksanakan dan dibandingkan dengan standar yang dibuat oleh klien sendiri, pandangan klien terhadap rendah diri antisipasif, gangguan penampilan peran dan gangguan identitas. Adanya gangguan konsep diri antisipasif harus diperhatikan secara seksama dan bersama-sama dengan klien melakukan pemilihan tujuan tindakan dan pemilihan koping konstruktif. Adanya masalah kesehatan yang timbul secara umum seperti terjadinya gangguan fungsi jantung dan sebagainya perlu didiskusikan dengan klien setelah klien benar-benar siap untuk menjalani operasi amputasi itu sendiri. Kesadaran yang penuh pada diri klien untuk berusaha berbuat yang terbaik bagi kesehatan dirinya, sehingga memungkinkan bagi perawat untuk melakukan tindakan intervensi dalam mengatasi masalah umum pada saat pre operatif. 4. Laboratorik Tindakan pengkajian dilakukan juga dengan penilaian secara laboratorik atau melalui pemeriksaan penunjang lain secara rutin dilakukan pada klien yang akan dioperasi yang meliputi penilaian terhadap fungsi paru, fungsi ginjal, fungsi hepar dan fungsi jantung. 5. Diagnosa Keperawatan dan Perencanaan Dari pengkajian yang telah dilakukan, maka diagnosa keperawatan yang dapat timbul antara lain : 1. Kecemasan berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang kegiatan perioperatif. Karakteristik penentu : - Mengungkapkan rasa tajut akan pembedahan. - Menyatakan kurang pemahaman. - Meminta informasi. Tujuan : Kecemasan pada klien berkurang. Kriteria evaluasi : - Sedikit melaporkan tentang gugup atau cemas. - Mengungkapkan pemahaman tentang operasi. INTERVENSI RASIONAL Memberikan bantuan secara fisik dan psikologis, memberikan dukungan moral. Menerangkan prosedur operasi dengan sebaik-baiknya. Mengatur waktu khusus dengan klien untuk berdiskusi tentang kecemasan klien. Secara psikologis meningkatkan rasa aman dan meningkatkan rasa saling percaya. Meningkatkan/memperbaiki pengetahuan/ persepsi klien. Meningkatkan rasa aman dan memungkinkan klien melakukan komunikasi secara lebih terbuka dan lebih akurat. 2. Berduka yang antisipasi (anticipated griefing) berhubungan dengan kehilangan akibat amputasi. Karakteristik penentu : - Mengungkapkan rasa takut kehilangan kemandirian. - Takut kecacatan. - Rendah diri, menarik diri. Tujuan : Klien mampu mendemontrasikan kesadaran akan dampak pembedahan pada citra diri. Kriteria evaluasi : - Mengungkapkan perasaan bebas, tidak takut. - Menyatakan perlunya membuat penilaian akan gaya hidup yangbaru. INTERVENSI RASIONAL Anjurkan klien untuk mengekspresikan perasaan tentang dampak pembedahan pada gaya hidup. Berikan informasi yang adekuat dan rasional tentang alasan pemilihan tindakan pemilihan amputasi. Berikan informasi bahwa amputasi merupakan tindakan untuk memperbaiki kondisi klien dan merupakan langkah awal untuk menghindari ketidakmampuan atau kondisi yang lebih parah. Fasilitasi untuk bertemu dengan orang dengan amputasi yang telah berhasil dalam penerimaan terhadap situasi amputasi. Mengurangi rasa tertekan dalam diri klien, menghindarkan depresi, meningkatkan dukungan mental. Membantu klien mengapai penerimaan terhadap kondisinya melalui teknik rasionalisasi. Meningkatkan dukungan mental. Strategi untuk meningkatkan adaptasi terhadap perubahan citra diri. Selain masalah diatas, maka terdapat beberapa tindakan keperawatan preoperatif antara lain : þ Mengatasi nyeri - Menganjurkan klien untuk menggunakan teknik dalam mengatsi nyeri. - Menginformasikan tersdianya obat untuk mengatasi nyeri. - Menerangkan pada klien bahwa klien akan “merasakan” adanya kaki untuk beberapa waktu lamanya, sensasi ini membantu dalam menggunakan kaki protese atau ketika belajar mengenakan kaki protese. þ Mengupayakan pengubahan posisi tubuh efektif - Menganjurkan klien untuk mengubah posisi sendiri setiap 1 – 2 jam untuk mencegah kontraktur. - Membantu klien mempertahankan kekuatan otot kaki ( yang sehat ), perut dan dada sebagai persiapan untuk penggunaan alat penyangga/kruk. - Mengajarkan klien untuk menggunakan alat bantu ambulasi preoperasi, untuk membantu meningkatkan kemampuan mobilitas posoperasi, memprtahankan fungsi dan kemampuan dari organ tubuh lain. þ Mempersiapkan kebutuhan untuk penyembuhan - Mengklarifikasi rencana pembedahan yang akan dilaksanakan kepada tim bedah. - Meyakinkan bahwa klien mendapatkan protese/alat bantu ( karena tidak semua klien yang mengalami operasi amputasi mendapatkan protese seperti pada penyakit DM, penyakit jantung, CVA, infeksi, dan penyakit vaskuler perifer, luka yang terbuka ). - Semangati klien dalam persiapan mental dan fisik dalam penggunaan protese. - Ajarkan tindakan-tindakan rutin postoperatif : batuk, nafas dalam. b. Intra Operatif Pada masa ini perawat berusaha untuk tetap mempertahankan kondisi terbaik klien. Tujuan utama dari manajemen (asuhan) perawatan saat ini adalah untuk menciptakan kondisi optimal klien dan menghindari komplikasi pembedahan. Perawat berperan untuk tetap mempertahankan kondisi hidrasi cairan, pemasukan oksigen yang adekuat dan mempertahankan kepatenan jalan nafas, pencegahan injuri selama operasi dan dimasa pemulihan kesadaran. Khusus untuktindakan perawatan luka, perawat membuat catatan tentang prosedur operasi yang dilakukan dan kondisi luka, posisi jahitan dan pemasangan drainage. Hal ini berguna untuk perawatan luka selanjutnya dimasa postoperatif. c. Post Operatif Pada masa post operatif, perawat harus berusaha untuk mempertahankan tanda-tanda vital, karena pada amputasi, khususnya amputasi ekstremitas bawah diatas lutut merupakan tindakan yang mengancam jiwa. Perawat melakukan pengkajian tanda-tanda vital selama klien belum sadar secara rutin dan tetap mempertahankan kepatenan jalas nafas, mempertahankan oksigenisasi jaringan, memenuhi kebutuhan cairan darah yang hilang selama operasi dan mencegah injuri. Daerah luka diperhatikan secara khusus untuk mengidentifikasi adanya perdarahan masif atau kemungkinan balutan yang basah, terlepas atau terlalu ketat. Selang drainase benar-benar tertutup. Kaji kemungkinan saluran drain tersumbat oleh clot darah. Awal masa postoperatif, perawat lebih memfokuskan tindakan perawatan secara umum yaitu menstabilkan kondisi klien dan mempertahankan kondisi optimum klien. Perawat bertanggungjawab dalam pemenuhan kebutuhan dasar klien, khususnya yang dapat menyebabkan gangguan atau mengancam kehidupan klien. Berikutnya fokus perawatan lebih ditekankan pada peningkatan kemampuan klien untuk membentuk pola hidup yang baru serta mempercepat penyembuhan luka. Tindakan keperawatan yang lain adalah mengatasi adanya nyeri yang dapat timbul pada klien seperti nyeri Panthom Limb dimana klien merasakan seolah-olah nyeri terjadi pada daerah yang sudah hilang akibat amputasi. Kondisi ini dapat menimbulkan adanya depresi pada klien karena membuat klien seolah-olah merasa ‘tidak sehat akal’ karena merasakan nyeri pada daerah yang sudah hilang. Dalam masalah ini perawat harus membantu klien mengidentifikasi nyeri dan menyatakan bahwa apa yang dirasakan oleh klien benar adanya. Ø Diagnosa keperawatan yang dapat ditegakkan antara lain adalah : 1. Gangguan rasa nyaman : Nyeri berhubungan dengan insisi bedah sekunder terhadap amputasi Karakteristik penentu : - Menyatakan nyeri. - Merintih, meringis. Tujuan : nyeri hilang / berkurang. Kriteria evaluasi : - Menyatakan nyeri hilang. - Ekspresi wajah rileks. INTERVENSI RASIONAL Evaluasi nyeri : berasal dari sensasi panthom limb atau dari luka insisi. Bila terjadi nyeri panthom limb Beri analgesik ( kolaboratif ). Ajarkan klien memberikan tekanan lembut dengan menempatkan puntung pada handuk dan menarik handuk dengan berlahan. Sensasi panthom limb memerlukan waktu yang lama untuk sembuh daripada nyeri akibat insisi. Klien sering bingung membedakan nyeri insisi dengan nyeri panthom limb. Untuk menghilangkan nyeri Mengurangi nyeri akibat nyeri panthom limb 2. Gangguan konsep diri berhubungan dengan perubahan citra tubuh sekunder terhadap amputasi Karakteristik penentu : - Menyatakan berduka tentang kehilangan bagian tubuh. - Mengungkapkan negatif tentang tubuhnya. - Depresi. Tujuan : Mendemontrasikan penerimaan diri pada situasi yang baru. Kriteria evaluasi : - Menyatakan penerimaan terhadap penerimaan diri. - Membuat rencana untuk melanjutkan gaya hidup. INTERVENSI RASIONAL Validasi masalah yang dialami klien. Libatkan klien dalam melakukan perawatan diri yang langsung menggunakan putung : - Perawatan luka. - Mandi. - Menggunakan pakaian. Berikan dukungan moral. Hadirkan orang yang pernah amputasi yang telah menerima diri. Meninjau perkembangan klien. Mendorong antisipasi meningkatkan adaptasi pada perubahan citra tubuh. Meningkatkan status mental klien. Memfasilitasi penerimaan terhadap diri. 3. Resiko tinggi terhadap komplikasi : Infeksi, hemorragi, kontraktur, emboli lemak berhubungan dengan amputasi Karakteristik penentu : - Terdapat tanda resiko infeksi, perdarahan berlebih, atau emboli lemak. Tujuan : tidak terjadi komplikasi. Kriteria evaluasi : tidak ada infeksi, hemorragi dan emboli lemak. INTERVENSI RASIONAL Lakukan perawatan luka adekuat. Mencegah terjadinya infeksi. Pantau : -Masukan dan pengeluaran cairan. - Tanda-tanda vital tiap 4 jam. - Kondisi balutan tiap 4-8 jam. - Menghindari resiko kehilangan cairan dan resiko terjadinya perdarahan pada daerah amputasi. Indikator adanya perdaraham masif Monitor pernafasan. Pertahankan posisi flower atau tetap tirah baring selama beberapa waktu Untuk mempercepat tindakan bila sewaktu- waktu dperlukan untuk tindakan yang cepat. Mengurangi kebutuhan oksigen jaringan atau memudahkan pernafasan. Beberapa kegiatan keperawatan lain yang dilakukan adalah : þ Melakukan perawatan luka postoperasi - Mengganti balutan dan melakukan inspeksi luka. - Terangkan bahwa balutan mungkin akan digunakan hingga protese yang digunakan telah tepat dengan kondisi daerah amputasi (6 bulan –1 tahun). þ Membantu klien beradaptasi dengan perubahan citra diri - Memberi dukungan psikologis. - Memulai melakukan perawatan diri atau aktivitas dengan kondisi saat ini. þ Mencegah kontraktur - Menganjurkan klien untuk melakukan gerakan aktif pada daerah amputasi segera setelah pembatasan gerak tidak diberlakukan lagi. - Menerangkan bahwa gerakan pada organ yang diamputasi berguna untuk meningkatkan kekuatan untuk penggunaan protese, menghindari terjadinya kontraktur. þ Aktivitas perawatan diri - Diskusikan ketersediaan protese ( dengan terapis fisik, ortotis ). - Mengajari klien cara menggunakan dan melepas protese. - Menyatakan bahwa klien idealnya mencari bantuan/superfisi dari tim rehabilitasi kesehatan selama penggunaan protese. - Mendemontrasikan alat-alat bantu khusus. - Mengajarkan cara mengkaji adanya gangguan kulit akibat penggunaan protese. DAFTAR PUSTAKA Engram, Barbara ( 1999 ), Rencana Asuhan Keperawatan Medikal – Bedah, edisi Indonesia, EGC, Jakarta. Brunner, Lillian S; Suddarth, Doris S ( 1986 ), Manual of Nursing Practice , 4th edition, J.B. Lippincott Co. Philadelphia. Kozier, erb; Oliveri ( 1991 ), Fundamentals of Nursing, Concepts, Process and Practice , Addison-Wesley Co. California. Reksoprodjo, S; dkk ( 1995 ), Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah, Bina Rupa Aksara, Jakarta.
LAPORAN PENDAHULUAN FRAKTUR
KONSEP MEDIK I. Pengertian Fraktur cruris adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya, terjadi pada tulang tibia dan fibula. Fraktur terjadi jika tulang dikenao stress yang lebih besar dari yang dapat diabsorbsinya. (Brunner & Suddart, 2000) II. Jenis Fraktur a) Fraktur komplet : patah pada seluruh garis tengah tulang dan biasanya mengalami pergeseran. b) Fraktur tidak komplet: patah hanya pada sebagian dari garis tengah tulang c) Fraktur tertutup: fraktur tapi tidak menyebabkan robeknya kulit d) Fraktur terbuka: fraktur dengan luka pada kulit atau membran mukosa sampai ke patahan tulang. e) Greenstick: fraktur dimana salah satu sisi tulang patah,sedang sisi lainnya membengkak. f) Transversal: fraktur sepanjang garis tengah tulang g) Kominutif: fraktur dengan tulang pecah menjadi beberapa frakmen h) Depresi: fraktur dengan fragmen patahan terdorong ke dalam i) Kompresi: Fraktur dimana tulang mengalami kompresi (terjadi pada tulang belakang) j) Patologik: fraktur yang terjadi pada daerah tulang oleh ligamen atau tendo pada daerah perlekatannnya. III. Etiologi a) Trauma b) Gerakan pintir mendadak c) Kontraksi otot ekstem d) Keadaan patologis : osteoporosis, neoplasma IV. Web Of Caution Trauma langsung trauma tidak langsung kondisi patologis FRAKTUR Diskontinuitas tulang pergeseran frakmen tulang Perub jaringan sekitar kerusakan frakmen tulang Pergeseran frag Tlg laserasi kulit: spasme otot tek. Ssm tlg > tinggi dr kapiler putus vena/arteri peningk tek kapiler reaksi stres klien deformitas perdarahan pelepasan histamin melepaskan katekolamin gg. fungsi protein plasma hilang memobilisai asam lemak kehilangan volume cairan edema bergab dg trombosit emboli penekn pem. drh menyumbat pemb drh penurunan perfusi jar a) Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya samapi fragmen tulang diimobilisasi, hematoma, dan edema b) Deformitas karena adanya pergeseran fragmen tulang yang patah c) Terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya karena kontraksi otot yang melekat diatas dan dibawah tempat fraktur d) Krepitasi akibat gesekan antara fragmen satu dengan lainnya e) Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit VI. Pemeriksaan Penunjang a) Pemeriksaan foto radiologi dari fraktur : menentukan lokasi, luasnya b) Pemeriksaan jumlah darah lengkap c) Arteriografi : dilakukan bila kerusakan vaskuler dicurigai d) Kreatinin : trauma otot meningkatkanbeban kreatinin untuk klirens ginjal VII. Penatalaksanaan a) Reduksi fraktur terbuka atau tertutup : tindakan manipulasi fragmen-fragmen tulang yang patah sedapat mungkin untuk kembali seperti letak semula. b) Imobilisasi fraktur Dapat dilakukan dengan fiksasi eksterna atau interna c) Mempertahankan dan mengembalikan fungsi � Reduksi dan imobilisasi harus dipertahankan sesuai kebutuhan � Pemberian analgetik untuk mengerangi nyeri � Status neurovaskuler (misal: peredarandarah, nyeri, perabaan gerakan) dipantau � Latihan isometrik dan setting otot diusahakan untuk meminimalakan atrofi disuse dan meningkatkan peredaran darah VIII. KOMPLIKASI a) Malunion : tulang patah telahsembuh dalam posisi yang tidak seharusnya. b) Delayed union : proses penyembuhan yang terus berjlan tetapi dengan kecepatan yang lebih lambat dari keadaan normal. c) Non union : tulang yang tidak menyambung kembali KONSEP KEPARAWATAN I. PENGKAJIAN 1. Pengkajian primer - Airway Adanya sumbatan/obstruksi jalan napas oleh adanya penumpukan sekret akibat kelemahan reflek batuk - Breathing Kelemahan menelan/ batuk/ melindungi jalan napas, timbulnya pernapasan yang sulit dan / atau tak teratur, suara nafas terdengar ronchi /aspirasi - Circulation TD dapat normal atau meningkat , hipotensi terjadi pada tahap lanjut, takikardi, bunyi jantung normal pada tahap dini, disritmia, kulit dan membran mukosa pucat, dingin, sianosis pada tahap lanjut 2. Pengkajian sekunder a.Aktivitas/istirahat z kehilangan fungsi pada bagian yangterkena z Keterbatasan mobilitas d) Sirkulasi z Hipertensi ( kadang terlihat sebagai respon nyeri/ansietas) z Hipotensi ( respon terhadap kehilangan darah) z Tachikardi z Penurunan nadi pada bagiian distal yang cidera z Cailary refil melambat z Pucat pada bagian yang terkena z Masa hematoma pada sisi cedera e) Neurosensori z Kesemutan z Deformitas, krepitasi, pemendekan z Kelemahan f) Kenyamanan z nyeri tiba-tiba saat cidera z spasme/ kram otot g) Keamanan z laserasi kulit z perdarahan z perubahan warna z pembengkakan lokal II. DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI a) Kerusakan mobilitas fisik b.d cedera jaringan sekitasr fraktur, kerusakan rangka neuromuskuler Tujuan : kerusakn mobilitas fisik dapat berkurang setelah dilakukan tindakan keperaawatan Kriteria hasil: z Meningkatkan mobilitas pada tingkat paling tinggi yang mungkin z Mempertahankan posisi fungsinal z Meningkaatkan kekuatan /fungsi yang sakit z Menunjukkan tehnik mampu melakukan aktivitas Intervensi: a. Pertahankan tirah baring dalam posisi yang diprogramkan b) Tinggikan ekstrimutas yang sakit c) Instruksikan klien/bantu dalam latian rentanng gerak pada ekstrimitas yang sakit dan tak sakit d) Beri penyangga pada ekstrimit yang sakit diatas dandibawah fraktur ketika bergerak e) Jelaskan pandangan dan keterbatasan dalam aktivitas f) Berikan dorongan ada pasien untuk melakukan AKS dalam lngkup keterbatasan dan beri bantuan sesuai kebutuhan’Awasi teanan daraaah, nadi dengan melakukan aktivitas g) Ubah psisi secara periodik h) Kolabirasi fisioterai/okuasi terapi b.Nyeri b.d spasme tot , pergeseran fragmen tulang Tujuan ; nyeri berkurang setelah dilakukan tindakan perawatan Kriteria hasil: � Klien menyatajkan nyei berkurang � Tampak rileks, mampu berpartisipasi dalam aktivitas/tidur/istirahat dengan tepat � Tekanan darahnormal � Tidak ada eningkatan nadi dan RR Intervensi: a. Kaji ulang lokasi, intensitas dan tpe nyeri b. Pertahankan imobilisasi bagian yang sakit dengan tirah baring c. Berikan lingkungan yang tenang dan berikan dorongan untuk melakukan aktivitas hiburan d. Ganti posisi dengan bantuan bila ditoleransi e. Jelaskanprosedu sebelum memulai f. Akukan danawasi latihan rentang gerak pasif/aktif g. Drong menggunakan tehnik manajemen stress, contoh : relasksasi, latihan nafas dalam, imajinasi visualisasi, sentuhan h. Observasi tanda-tanda vital i. Kolaborasi : pemberian analgetik c) Kerusakan integritas jaringan b.d fraktur terbuka , bedah perbaikan Tujuan: kerusakan integritas jaringan dapat diatasi setelah tindakan perawatan Kriteria hasil: z Penyembuhan luka sesuai waktu z Tidak ada laserasi, integritas kulit baik Intervensi: a. Kaji ulang integritas luka dan observasi terhadap tanda infeksi atau drainae b. Monitor suhu tubuh c. Lakukan perawatan kulit, dengan sering pada patah tulang yang menonjol d. Lakukan alihposisi dengan sering, pertahankan kesejajaran tubuh e. Pertahankan sprei tempat tidur tetap kering dan bebas kerutan f. Masage kulit ssekitar akhir gips dengan alkohol g. Gunakan tenaat tidur busa atau kasur udara sesuai indikasi h. Kolaborasi emberian antibiotik. 1. Tucker,Susan Martin (1993). Standar Perawatan Pasien , Edisi V, Vol 3. Jakarta. EGC 2. Donges Marilynn, E. (1993). Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, Jakarta. EGC 3. Smeltzer Suzanne, C (1997). Buku Ajar Medikal Bedah, Brunner & Suddart. Edisi 8. Vol 3. Jakarta. EGC 4. Price Sylvia, A (1994), Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jilid 2 . Edisi 4. Jakarta. EGC
LAPORAN PENDAHULUANASKEP GATRITIS
1. KONSEP MEDIS A. Pengertian § Gastritis adalah inflamasi dari mukosa lambung (Mansjoer Arif, 1999,hal : 492) § Gastritis adalah inflamasi pada dinding gaster terutama pada lapisan mukosa gaster (Sujono Hadi, 1999, hal : 181). § Gastritis adalah peradangan lokal atau penyebaran pada mukosa lambung dan berkembang dipenuhi bakteri (Charlene. J, 2001, hal : 138). askep-gastritis Gbr.1. Gastritis dibagi menjadi 2 yaitu : 1. Gastritis akut Salah satu bentuk gastritis akut yang sering dijumpai di klinik ialah gastritis akut erosif. Gastritis akut erosif adalah suatu peradangan mukosa lambung yang akut dengan kerusakan-kerusakan erosif. Disebut erosif apabila kerusakan yang terjadi tidak lebih dalam daripada mukosa muskularis. 2. Gastritis kronis Gastritis kronis adalah suatu peradangan bagian permukaan mukosa lambung yang menahun (Soeparman, 1999, hal : 101). Gastritis kronis adalah suatu peradangan bagian permukaan mukosa lambung yang berkepanjangan yang disebabkan baik oleh ulkus lambung jinak maupun ganas atau oleh bakteri helicobacter pylori (Brunner dan 2 Suddart, 2000, hal : 188). Dari ketiga definisi, dapat disimpulkan bahwa gastritis adalah inflamasi atau peradangan pada dinding lambung terutama pada mukosa lambung dapat bersifat akut dan kronik. B. Etiologi Penyebab gastritis adalah obat analgetik anti inflamasi terutama aspirin; bahan kimia, misalnya lisol; merokok; alkohol; stres fisis yang disebabkan oleh luka bakar, sepsis, trauma, pembedahan, gagal pernafasan, gagal ginjal, kerusakan susunan saraf pusat; refluk usus lambung (Inayah, 2004, hal : 58). Gastritis juga dapat disebabkan oleh obat-obatan terutama aspirin dan obat anti inflamasi non steroid (AINS), juga dapat disebabkan oleh gangguan mikrosirkulasi mukosa lambung seperti trauma, luka bakar dan sepsis (Mansjoer, Arif, 1999, hal : 492). C. Gambaran Klinis Sindrom dispepsia berupa nyeri epigastrium, mual, kembung dan muntah merupakan salah satu keluhan yang sering muncul. Ditemukan juga perdarahan saluran cerna berupa hematemesis dan melena, kemudian disusul dengan tanda-tanda anemia pasca perdarahan. Biasanya jika dilakukan anamnesa lebih dalam, terdapat riwayat penggunaan obat-obatan atau bahan kimia tertentu. Pasien dengan gastritis juga disertai dengan pusing, kelemahan dan rasa tidak nyaman pada abdomen (Mansjoer, Arif, 1999, hal : 492-493). D. Patofisiologi 1. Gastritis Akut Gastritis akut dapat disebabkan oleh karena stres, zat kimia misalnya obat-obatan dan alkohol, makanan yang pedas, panas maupun asam. Pada para yang mengalami stres akan terjadi perangsangan saraf simpatis NV (Nervus vagus) yang akan meningkatkan produksi asam klorida (HCl) di dalam lambung. Adanya HCl yang berada di dalam lambung akan menimbulkan rasa mual, muntah dan anoreksia. Zat kimia maupun makanan yang merangsang akan menyebabkan sel epitel kolumner, yang berfungsi untuk menghasilkan mukus, mengurangi produksinya. Sedangkan mukus itu fungsinya untuk memproteksi mukosa lambung agar tidak ikut tercerna. Respon mukosa lambung karena penurunan sekresi mukus bervariasi diantaranya vasodilatasi sel mukosa gaster. Lapisan mukosa gaster terdapat sel yang memproduksi HCl (terutama daerah fundus) dan pembuluh darah. Vasodilatasi mukosa gaster akan menyebabkan produksi HCl meningkat. Anoreksia juga dapat menyebabkan rasa nyeri. Rasa nyeri ini ditimbulkan oleh karena kontak HCl dengan mukosa gaster. Respon mukosa lambung akibat penurunan sekresi mukus dapat berupa eksfeliasi (pengelupasan). Eksfeliasi sel mukosa gaster akan mengakibatkan erosi pada sel mukosa. Hilangnya sel mukosa akibat erosi memicu timbulnya perdarahan. Perdarahan yang terjadi dapat mengancam hidup penderita, namun dapat juga berhenti sendiri karena proses regenerasi, sehingga erosi menghilang dalam waktu 24-48 jam setelah perdarahan. 2. Gastritis Kronis Helicobacter pylori merupakan bakteri gram negatif. Organisme ini menyerang sel permukaan gaster, memperberat timbulnya desquamasi sel dan muncullah respon radang kronis pada gaster yaitu : destruksi kelenjar dan metaplasia. Metaplasia adalah salah satu mekanisme pertahanan tubuh terhadap iritasi, yaitu dengan mengganti sel mukosa gaster, misalnya dengan sel desquamosa yang lebih kuat. Karena sel desquamosa lebih kuat maka elastisitasnya juga berkurang. Pada saat mencerna makanan, lambung melakukan gerakan peristaltik tetapi karena sel penggantinya tidak elastis maka akan timbul kekakuan yang pada akhirnya menimbulkan rasa nyeri. Metaplasia ini juga menyebabkan hilangnya sel mukosa pada lapisan lambung, sehingga akan menyebabkan kerusakan pembuluh darah lapisan mukosa. Kerusakan pembuluh darah ini akan menimbulkan perdarahan. (Price, Sylvia dan Wilson, Lorraine, 1999 : 162) (www.google, penyakit gastritis.com) F. Penatalaksanaan Pengobatan gastritis meliputi : 1. Mengatasi kedaruratan medis yang terjadi. 2. Mengatasi atau menghindari penyebab apabila dapat dijumpai. 3. Pemberian obat-obat antasid atau obat-obat ulkus lambung yang lain. (Soeparman, 1999, hal : 96) Pada gastritis, penatalaksanaannya dapat dilakukan dengan : a. Gastritis akut - Instruksikan pasien untuk menghindari alkohol. - Bila pasien mampu makan melalui mulut diet mengandung gizi dianjurkan. - Bila gejala menetap, cairan perlu diberikan secara parenteral. - Bila perdarahan terjadi, lakukan penatalaksanaan untuk hemoragi saluran gastromfestinal -Untuk menetralisir asam gunakan antasida umum. - Untuk menetralisir alkali gunakan jus lemon encer atau cuka encer. - Pembedahan darurat mungkin diperlukan untuk mengangkat gangren atau perforasi. - Reaksi lambung diperlukan untuk mengatasi obstruksi pylorus b. Gastritis kronis - Dapat diatasi dengan memodifikasi diet pasien, diet makan lunak diberikan sedikit tapi lebih sering. - Mengurangi stress - H. Pylori diatasi dengan antiobiotik (seperti tetraciklin ¼, amoxillin) dan gram bismuth (pepto-bismol). (www.google : penanganan penyakit gastritis.com) G. Komplikasi ulkus-peptikum Gbr.2. 1. Perdarahan saluran cerna bagian atas. 2. Ulkus peptikum, perforasi dan anemia karena gangguan absorbsi vitamin. (Mansjoer, Arif, 1999, hal : 493) H. Pemeriksaan Diagnostik 1. EGD (Esofagogastriduodenoskopi) = tes diagnostik kunci untuk perdarahan GI atas, dilakukan untuk melihat sisi perdarahan / derajat ulkus jaringan / cedera. 2. Minum barium dengan foto rontgen = dilakukan untuk membedakan diganosa penyebab / sisi lesi. 3. Analisa gaster = dapat dilakukan untuk menentukan adanya darah, mengkaji aktivitas sekretori mukosa gaster, contoh peningkatan asam hidroklorik dan pembentukan asam nokturnal penyebab ulkus duodenal. Penurunan atau jumlah normal diduga ulkus gaster, dipersekresi berat dan asiditas menunjukkan sindrom Zollinger- Ellison. 4. Angiografi = vaskularisasi GI dapat dilihat bila endoskopi tidak dapat disimpulkan atau tidak dapat dilakukan. Menunjukkan sirkulasi kolatera dan kemungkinan isi perdarahan. 5. Amilase serum = meningkat dengan ulkus duodenal, kadar rendah diduga gastritis. (Doengoes, 1999, hal : 456) 2. KONSEP KEPERAWATAN A. Pengkajian 1. Aktivitas / Istirahat Gejala : kelemahan, kelelahan Tanda : takikardia, takipnea / hiperventilasi (respons terhadap aktivitas) 2. Sirkulasi Gejala : Ø Hipotensi (termasuk postural) Ø Takikardia, disritmia (hipovolemia / hipoksemia) Ø Kelemahan / nadi perifer lemah Ø Pengisian kapiler lambar / perlahan (vasokonstriksi) Ø Warna kulit : pucat, sianosis (tergantung pada jumlah kehilangan darah) Ø Kelemahan kulit / membran mukosa = berkeringat (menunjukkan status syok, nyeri akut, respons psikologik) 3. Integritas ego Gejala: Faktor stress akut atau kronis (keuangan, hubungan kerja),perasaan tak berdaya. Tanda: Tanda ansietas, misal : gelisah, pucat, berkeringat, perhatian menyempit, gemetar, suara gemetar 4. Eliminasi Gejala : Riwayat perawatan di rumah sakit sebelumnya karena perdarahan gastro interitis (GI) atau masalah yang berhubungan dengan GI, misal : luka peptik / gaster, gastritis, bedah gaster, iradiasi area gaster. Perubahan pola defekasi / karakteristik feses. Tanda : Ø Nyeri tekan abdomen, distensi Ø Bunyi usus : sering hiperaktif selama perdarahan, hipoaktif setelah perdarahan. Karakteristik feses : diare, darah warna gelap, kecoklatan atau kadang-kadang merah cerah, berbusa, bau busuk (steatorea). Konstipasi dapat terjadi (perubahan diet, penggunaan antasida). Ø Haluaran urine : menurun, pekat 5. Makanan / Cairan Gejala : Anoreksia, mual, muntah (muntah yang memanjang diduga obstruksi pilorik bagian luar sehubungan dengan luka duodenal). Masalah menelan : cegukan Nyeri ulu hati, sendawa bau asam, mual / muntah Tanda : Muntah : warna kopi gelap atau merah cerah, dengan atau tanpa bekuan darah. Membran mukosa kering, penurunan produksi mukosa, turgor kulit buruk (perdarahan kronis) 6. Neurosensi Gejala : Rasa berdenyut, pusing / sakit kepala karena sinar, kelemahan. Status mental : tingkat kesadaran dapat terganggu, rentang dari agak cenderung tidur, disorientasi / bingung, sampai pingsan dan koma (tergantung pada volume sirkulasi / oksigenasi) 7. Nyeri / Kenyamanan Gejala : Ø Nyeri, digambarkan sebagai tajam, dangkal, rasa terbakar, perih, nyeri hebat tiba-tiba dapat disertai perforasi. Rasa ketidaknyamanan / distres samar-samar setelah makan banyak dan hilang dengan makan (gastritis akut). Ø Nyeri epigastrum kiri sampai tengah / atau menyebar ke punggung terjadi 1-2 jam setelah makan dan hilang dengan antasida (ulus gaster). Nyeri epigastrum kiri sampai / atau menyebar ke punggung terjadi kurang lebih 4 jam setelah makan bila lambung kosong dan hilang dengan makanan atau antasida (ulkus duodenal). Ø Tak ada nyeri (varises esofegeal atau gastritis). Ø Faktor pencetus : makanan, rokok, alkohol, penggunaan obat- obatan tertentu (salisilat, reserpin, antibiotik, ibuprofen), stresor psikologis. Tanda : wajah berkerut, berhati-hati pada area yang sakit, pucat, berkeringat, perhatian menyempit 8. Keamanan Gejala : alergi terhadap obat / sensitif misal : ASA Tanda : Peningkatan suhu,Spider angioma, eritema palmar (menunjukkan sirosis / hipertensi portal) 9. Penyuluhan / Pembelajaran Gejala : Ø Adanya penggunaan obat resep / dijual bebas yang mengandung ASA, alkohol, steroid. Ø NSAID menyebabkan perdarahan GI. (Doengoes, 1999, hal : 455) B. Diagnosa Keperawatan a. Kekurangan volume cairan (kehilangan aktif) yang berhubungan dengan perdarahan, mual, muntah dan anoreksia. (Doengoes, 1999 : 458-466) b. Risiko tinggi kerusakan perfusi jaringan berhubungan dengan hipovolemia (Doengoes, 1999,hal 461-462) c. Ansietas / ketakutan berhubungan dengan perubahan status kesehatan, ancaman kematian, nyeri. (Doengoes, 1999,hal 462-463) d. Nyeri (akut / kronis) berhubungan dengan luka bakar kimia pada mukosa gaster, rongga oral, iritasi lambung. (Doengoes,1999,hal 464-465) e. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, muntah dan anoreksia sekunder akibat peningkatan produksi HCl (asam lambung). (Carpenito (1999 : 204, 259) C. Perencanaan Setelah merumuskan diagnosa keperawatan, dibuat rencana tindakan untuk mengurangi, menghilangkan dan mencegah masalah klien 1.Kekurangan volume cairan (kehilangan aktif) berhubungan dengan perdarahan, mual, muntah dan anoreksia. Intervensi : a. Catat karakteristik muntah dan / atau drainase Rasional : Membantu dalam membedakan penyebab distres gaster Kandungan empedu kuning kehijauan menunjukkan bahwa pilorus terbuka. Kandungan fekal menunjukkan obstruksi usus. Darah merah cerah menandakan adanya atau perdarahan arterial akut. b. Awasi tanda vital Rasional : Perubahan tekanan darah dan nadi dapat digunakan perkiraan kasar kehilangan darah (misal : TD < 90 mmHg, dan nadi > 110 diduga 25% penurunan volume atau kurang lebih 1000 ml). c.Awasi masukan dan haluaran dihubungkan dengan perubahan berat badan. Ukur kehilangan darah / cairan melalui muntah, penghisapan gaster / lavase, dan defekasi. Rasional : memberikan pedoman untuk penggantian cairan. d.Pertahankan tirah baring, mencegah muntah dan tegangan pada saat defekasi. Jadwalkan aktivitas untuk memberikan periode istirahat tanpa gangguan. Rasional : Aktivitas / muntah meningkatkan tekanan intra-abdominal dan dapat mencetuskan perdarahan lanjut. e. Tinggikan kepala tempat tidur selama pemberian antasida Rasional : Mencegah refleks gaster pada aspirasi antasida dimana dapat menyebabkan komplikasi paru serius Kolaborasi 1) Berikan cairan / darah sesuai indikasi Rasional : Penggantian cairan tergantung pada derajat hipovolemia dan lamanya perdarahan (akut atau kronis) 2) Berikan obat sesuai indikasi : § Ranitidin (zantac), nizatidin (acid). Rasional : Penghambat histamin H2 menurunkan produksi asam gaster. § Antasida (misal : Amphojel, Maalox, Mylanta, Riopan) Rasional : Dapat dighunakan untuk mempertahankan pH gaster pada tingkat 4,5 atau lebih tinggi untuk menurunkan risiko perdarahan ulang. § Antiemetik (misal : metoklopramid / reglan, proklorperazine / campazine) Rasional : menghilangkan mual dan mencegah muntah. 2. Risiko tinggi kerusakan perfusi jaringan berhubungan dengan hipovolemia Intervensi : a. Selidiki perubahan tingkat kesadaran, keluhan pusing / sakit kepala Rasional : Perubahan dapat menunjukkan ketidakadekuatan perfusi serebral sebagai akibat tekanan darah arteria. b. Selidiki keluhan nyeri dada Rasional : Dapat menunjukkan iskemia jantung sehubungan dengan penurunan perfusi. c. Kaji kulit terhadap dingin, pucat, berkeringat, pengisian kapiler lambat dan nadi perifer lemah. Rasional : Vasokonstriksi adalah respons simpatis terhadap penurunan volume sirkulasi dan / atau dapat terjadi sebagai efek samping pemberian vasopresin. d. Catat haluaran dan berat jenis urine Rasional : Penurunan perfusi sistemik dapat menyebabkan iskemia / gagal ginjal dimanifestasikan dengan penurunan keluaran urine. e. Catat laporan nyeri abdomen, khususnya tiba-tiba, nyeri hebat atau nyeri menyebar ke bahu Rasional : Nyeri disebabkan oleh ulkus gaster sering hilang setelah perdarahan akut karena efek bufer darah. Nyeri berat berlanjut atau tiba-tiba dapat menunjukkan iskemia sehubungan dengan terapi vasokinstriksi. f. Observasi kulit untuk pucat, kemerahan, pijat dengan minyak. Ubah posisi dengan sering Rasional : gangguan pada sirkulasi perifer meningkatkan risiko kerusakan kulit. Kolaborasi 1) Berikan oksigen tambahan sesuai indikas Rasional : mengobati hipoksemia dan asidosis laktat selama perdarahan akut. 2) Berikan cairan IV sesuai indikasi Rasional : mempertahankan volume sirkulasi dan perfusi 3. Ansietas / ketakutan berhubungan dengan perubahan status kesehatan, ancaman kematian, nyeri. Intervensi : a. Awasi respons fisiologi misal : takipnea, palpitasi, pusing, sakit kepala, sensasi kesemutan. Rasional : Dapat menjadi indikatif derajat takut yang dialami pasien tetapi dapat juga berhubungan dengan kondisi fisik / status syok. b. Dorong pernyataan takut dan ansietas, berikan umpan balik. Rasional : Membuat hubungan terapeutik. c. Berikan informasi akurat Rasional : Melibatkan pasien dalam rencana asuhan dan menurunkan ansietas yang tak perlu tentang ketidaktahuan. d. Berikan lingkungan tenang untuk istirahat Rasional : Memindahkan pasien dari stresor luar meningkatkan relaksasi, dapat meningkatkan ketrampilan koping. e. Dorong orang terekat tinggal dengan pasien Rasional : Membantu menurunkan takut melalui pengalaman menakutkan menjadi seorang diri f. Tunjukkan teknik relaksasi Rasional : belajar cara untuk rileks dapat membantu menurunkan takut dan ansietas. 4. Nyeri (akut / kronis) berhubungan dengan luka bakar kimia pada mukosa gaster, rongga oral, iritasi lambung. Intervensi : a. Catat keluhan nyeri, termasuk lokasi, lamanya, intensitas (skala 0-10) Rasional : Nyeri tidak selalu ada tetapi bila ada harus dibandingkan dengan gejala nyeri pasien sebelumnya, dimana dapat membantu mendiagnosa etiologi perdarahan dan terjadinya komplikasi. b. Kaji ulang faktor yang meningkatkan atau menurunkan nyeri Rasional : Membantu dalam membuat diagnosa dan kebutuhan terapi. c. Berikan makanan sedikit tapi sering sesuai indikasi untuk pasien Rasional : Makanan mempunyai efek penetralisir asam, juga menghancurkan kandungan gaster. Makan sedikit mencegah distensi dan haluaran gastrin. d. Bantu latihan rentang gerak aktif pasif Rasional : Menurunkan kekakuan sendi, meminimalkan nyeri / ketidaknyamanan. e. Berikan perawatan oral sering dan tindakan kenyamanan, misal : pijatan punggung, perubahan posisi Rasional : Nafas bau karena tertahannya sekret mulut menimbulkan tak nafsu makan dan dapat meningkatkan mual. Kolaborasi 1) Berikan obat sesuai indikasi, misal : § Antasida Rasional : Menurunkan keasaman gaster dengan absorbsi atau dengan menetralisir kimia. § Antikolinergik (misal : belladonna, atropin) Rasional : Diberikan pada waktu tidur untuk menurunkan motilitas gaster, menekan produksi asam, memperlambat pengosongan gaster, dan menghilangkan nyeri nokturnal sehubungan 5. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, muntah dan anoreksia sekunder akibat peningkatan produksi HCl (asam lambung).(menurut : Capertnito) Intervensi : a. Timbang berat badan sesuai indikasi Rasional : Mengevaluasi keefektifan atau kebutuhan mengubah pemberian nutrisi. b. Aukultasi bising usus Rasional : Membantu dalam menentukan respon untuk makan atau berkembangnya komplikasi. c. Berikan makanan dalam jumlah kecil dan dalam waktu yang sering dan teratur Rasional : Meningkatkan proses pencernaan dan toleransi pasien terhadap nutrisi yang diberikan dan dapat meningkatkan kerjasama pasien saat makan. d. Tentukan makanan yang tidak membentuk gas Rasional : Dapat mempengaruhi nafsu makan / pencernaan dan membatasi masukan nutrisi. D. Implementasi Implementasi merupakan pelaksanaan rencana keperawatan oleh perawat terhadap pasien. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan rencana keperawatan diantaranya : Intervensi dilaksanakan sesuai dengan rencana setelah dilakukan validasi ; ketrampilan interpersonal, teknikal dan intelektual dilakukan dengan cermat dan efisien pada situasi yang tepat, keamanan fisik dan psikologis klien dilindungi serta dokumentasi intervensi dan respon pasien. Pada tahap implementasi ini merupakan aplikasi secara kongkrit dari rencana intervensi yang telah dibuat untuk mengatasi masalah kesehatan dan perawatan yang muncul pada pasien (Budianna Keliat, 1994,4). E. Evaluasi Evaluasi merupakan langkah terakhir dalam proses keperawatan, dimana evaluasi adalah kegiatan yang dilakukan secara terus menerus dengan melibatkan pasien, perawat dan anggota tim kesehatan lainnya. Tujuan dari evaluasi ini adalah untuk menilai apakah tujuan dalam rencana keperawatan tercapai dengan baik atau tidak dan untuk melakukan pengkajian ulang (US. Midar H, dkk, 1989). Evaluasi pada klien dengan Gastrtitis, yaitu : 1. Keseimbangan cairan dan elektrolit teratasi 2. Resiko gangguan perfusi jaringan teratasi 3. Ansietas klien teratasi 2. Kebutuhan nutrisi teratasi DAFTAR PUSTAKA Mansjoer, Arif, 1999, Kapita Selekta Kedokteran , edisi 3, Jilid I, FKUI, Jakarta. Hadi, Soejono, 1999, Gastroenterologi, penerbit Alumni, Bandung. Reevest, Charlene. J., 2001, Keperawatan Medikal Bedah, edisi 1 , Salemba Medika, Jakarta. Soeparman, 1999, Ilmu Penyakit Dalam, Jilid II, FKUI, Jakarta. Brunner dan Suddart, 2000, Keperawatan Medikal Bedah, EGC, Jakarta. Inayah, Iin, 2004, Asuhan Keperawatan Pada Klien dengan Gangguan Sistem Pencernaan, Edisi I, Salemba Medika, Jakarta. Doengoes, Marylin E, 1999, Rencana Asuhan Keperawatan , EGC, Jakarta. Carpenito, Lynda Juall., 2000, Buku Saku Diagnosa Keperawatan, edisi 8 , Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran, EGC Keliat, Budi Anna. Proses Keperawatan , Arcan Jakarta ; 1991 www. Google. Penanganan Penyakit gastritis .com
STANDAR OPERASIONAL BATUK EFEKTIF
A. PENGERTIAN Teknik batuk efektif adalah tindakan yang diperlukan untuk membersihkan skret pada jalan napas. B. TUJUAN 1) Untuk meningkatkan ekspansi paru 2) Mobilisasi sekret 3) Mencegah efek samping dari retensi sekeresi (Pneumonia,atelektasis dan demam) C. PERSIAPAN 1) Persiapan Alat a) Sputum Pot b) Kain Kassa c) Air hangat dalam gelas 2) Persiapan Pasien a) Jelaskan maksud dan tujuan tindakan b) Atur posisi pasien dengan posisi duduk 3) Persiapan Lingkungan a) Ciptakan lingkungan yang tenang dan aman b) Pasang schreen bila perlu D. PELAKSANAAN 1) Atur posisi pasien 2) Anjurkan pasien untuk mnum air hangat dulu 3) Anjurkan pasien untuk menarik nafas dalam 4-5 kali 4) Pada tarikan selanjutnya napas dalam ditahan selama 1-2 detik 5) Angkat bahu dan dada dilonggarkan serta batukkan dengan keras, kuat dan cepat 6) Buang sekret ke tempat sputum pot 7) Lakukan tindakan ini 2-3 kali 8) Anjurkan pasien untuk minum air hangat 9) Perhatikan kondisi penderita 10) Rapikan pasien dan alat 11) Perawat mencuci tangan E. EVALUASI a) Observasi keadaan pasien b) Observasi sputum/ sekret REFERENSI 1. Panduan Panum Keperawatan Medikal Bedah Tahun 2009 2. Http://keperawatandankesehatan.blogspot.com/2010/09/batuk-efektif-dan-teknik-napas-dalam.html (Online) tanggal 10 Mei 2011 ; Pukul 19.30 WITA






